Tampilkan postingan dengan label Opiniku. Tampilkan semua postingan

22 November 2017

Rasa Bersalah yang (Bisa) Mengubah Diri

Tidak ada komentar :
Keadaan bisa berulang kali menggerakkan kita untuk bertindak dengan cara yang bertentangan dengan bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Mungkin hal itu terjadi tanpa diduga tanpa niat kita. Atau mungkin memang nyaman pada saat itu. Tapi ketika tindakan kita tidak sesuai dengan keyakinan kita, bagaimana ini mempengaruhi kita?

Ketika kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang kita percaya atau ketika kita menemukan diri kita bertindak dengan cara yang bertentangan dengan citra diri kita, pikiran kita berjuang dengan ketidakkonsistenan ini. Kita terganggu. Kita merasa tidak nyaman. Kita menjadi tertekan. Ketegangan tercipta di dalam diri kita, karena perilaku kita sekarang menimbulkan ancaman terhadap cara kita melihat diri kita sendiri.

Untuk menggambarkan hal ini, tindakan berbohong saat kita sangat percaya pada kejujuran bisa menghasilkan ketegangan ini. Beberapa orang akan menyebut ketegangan ini sebagai rasa bersalah.

Pikiran kita berjuang melawan kontradiksi antara perilaku dan kepercayaan ini. Kecemasan diciptakan demikian. Untuk melepaskan diri dari ketidaknyamanan mental ini, kita terdorong untuk mengambil keputusan. Kita menjadi dihadapkan pada pilihan antara penebusan untuk tindakan yang tampaknya tidak konsisten ini atau mengubah pandangan kita tentang diri kita sendiri untuk mengakomodasi perilaku asing yang tampaknya asing ini.


Jika kita memilih untuk menjaga kepercayaan kita...

Jika kita tidak menginginkan citra diri kita terancam oleh perilaku tidak konsisten ini, maka kemungkinan keputusan kita adalah mengimbangi. Dalam hubungan romantis, ini sering terjadi ketika salah satu mitra melakukan tindakan ketidakjujuran. Pasangan yang bersalah merasa buruk dan menjadi terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik seperti membeli hadiah untuk pasangan yang tidak bersalah. Terkadang, menjadi jelas bagi pasangan yang tidak bersalah terutama saat pasangan yang bersalah biasanya tidak melakukan hal-hal seperti ini. Namun, tindakan kompensasi ini bukan untuk keuntungan mitra yang tidak bersalah. Pasangan yang bersalah melakukan ini untuk membersihkan citra dirinya yang tercoreng dan mengembalikan harga dirinya. Konsekuensi lebih lanjut dari ini adalah kemungkinan bahwa pasangan yang bersalah tersebut akan berjanji pada dirinya sendiri untuk menghindari pengulangan perilaku yang mengancam ini. Perilaku demikian berubah demi kepercayaan. Dalam contoh kita, pasangan yang berbohong tidak hanya memberikan hadiah kepada pasangan yang tidak bersalah, tapi juga akan bertekad untuk tidak berbohong lagi.

Tindakan kompensasi ini terjadi dalam banyak situasi paralel di berbagai jenis interaksi sosial. Biasanya kasus yang bersalah tiba-tiba membuat seseorang melakukan sesuatu yang baik.


Jika tindakan menjadi lebih penting bagi individu daripada citra dirinya...

Apa yang terjadi bila individu tidak dipindahkan untuk mengkompensasi perilaku tidak konsisten ini? Dengan menggunakan ilustrasi sebelumnya, alih-alih memberi kompensasi atas tindakan berbohong, individu tersebut memutuskan untuk mengadopsi perilaku baru ini. Hal ini akan menghasilkan modifikasi citra dirinya. Dalam kasus ini, keyakinan inilah yang akan berubah dalam mendukung tingkah laku baru. Pasangan yang berbohong akan merasa baik dengan berbohong dan tidak akan terganggu saat ia berbohong lagi di masa depan.

Mengubah cara kita melihat diri kita untuk mengadopsi perilaku baru dan tidak konsisten adalah hasil yang mungkin terjadi bila citra diri seseorang tidak begitu jelas. Karakter yang tidak terdefinisi sering kali cenderung berubah setiap kali tekanan sosial dari situasi baru ditemui. Kesadaran diri sangat penting dalam integritas identitas seseorang. Pemeriksaan terhadap nilai, sikap dan keyakinan kita memupuk gambaran mental yang jelas tentang diri kita yang memungkinkan tindakan dan citra diri kita tetap konsisten satu sama lain. Ini akan memungkinkan karakter seseorang untuk tetap utuh. Penyampaian Pasal, terlepas dari situasi di mana kita menemukan diri kita sendiri.


#berbagi_bukan_menggurui...

09 Mei 2017

Stop Mencela!

Tidak ada komentar :
Salah satu fenomena yang terjadi di sosial media saat ini kebiasaan mencela. Entah itu mencela orang tertentu, golongan tertentu, partai politik, sampai dengan keyakinan beragama tak luput dari objek celaan. Anehnya, topik seperti ini seakan semakin hari semakin meruncing saja. Tak jarang celaan-celaan tersebut dibarengi dengan kata-kata kasar, jorok, saling memojokkan, saling menjatuhkan dst.

Namanya juga manusia, bukan malaikat. Maka kalau dicari-cari, pasti setiap orang memiliki kelemahan dan kesalahan. Harusnya ini bukan untuk dicela, apalagi diumbar ke khalayak ramai. Apa yang kita dapat dari kebiasaan mencela orang lain? untungkah? menyenangkan-kah? atau....

Jika tidak segera tinggalkan kebiasaan ini mulai sekarang, maka bukan tidak mungki mencela akan menjadi sebuah budaya. Jika sudah sampai pada tahapan ini, maka akan sangat menyedihkan kalau yang dikenal orang dari budaya Indonesia adalah budaya mencela. 

Banyak bangsa yang menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Nah, kita masa hanya menghasilkan kebudayaan mencela. Ini juga nanti tercatat lho seperti halnya kebudayaan bangsa jaman dahulu yang tercatat dalam artifak-artifak sejarah; prasasti, candi, dan bahkan dalam landmark-landmark.. 

Jadi, mari hentikan kebiasaan mencela!

Kalau ada yang mencela atau mengajak kita mencela atau bahkan sekedar mengajak kita tertawa dalam celaannya, tinggalkan..................

25 Oktober 2016

PUNGLI Ada Karena Kita

Tidak ada komentar :
Pungli, dekat dengan keseharian kita. Di jalan raya, mudah sekali di temukan pungli. Di kantor pelayanan publik, juga mudah ditemukan pungli. Bahkan di beberapa perusahaan swasta pun (terlebih model pabrik), pungli (pasti) tak sulit ditemukan. 

Di jalan raya, oknum polisi atau oknum dishub sering memanfaatkan lahan in sebagai mata pencaharian sampingan yang tak jarang menghasilkan fulus yang (mungkin) lebih besar dari gaji bulanan mereka. Di kantor pelayanan publik, seperti samsat, pungli seperti menjadi menu wajib dengan berbagai istilah yang disamarkan. Saya sendiri ada pengalaman pernah ditawari prosedur "jalan tol" oleh oknum ketika akan mengikuti ujian SIM di tahun 2012. Tapi karena saya terlalu pede dan sedikit idealis, maka saya menolak! dan saya pun ikut ujian tulis. Sayang hasilnya gagal dengan nilai ujian yang tidak pernah diberitahukan secara jelas. Kemudian disuruh mengulang dua minggu berikutnya untuk kemudian menjalani ujian tulis ulang. Saya pun berusaha keras memperdalam pengetahuan seputar materi-materi yang sering diujikan dalam ujian tulis tsb.

Dua minggu berselang, saya ikut ujian lagi. Dan lagi-lagi, hasilnya dinyatakan gagal tanpa memberitahukan skor ujian saya. Padahal saya yakin sebetulnya skor ujian saya mencapai bahkan melebihi yang disyaratkan oleh penguji waktu itu. tapi sudahlah... akhirnya idealisme saya pun luluh.. ikut prosedur jalan tol... wkwkk
#maap pak polisi, saya menyerah!

Sepenggal cerita saya diatas mungkin juga pernah Anda alami. Setidaknya mungkin hanya istilah "jalan tol" nya saja yang beda. 

Tapi belajar dari cerita diatas, ternyata bisa diambil ditarik benang merahnya bahwa pungli ada bukan hanya karena masalah ada oknum saja, melainkan karena sebagian masyarakat juga masih senang (atau setidaknya terpaksa) dengan budaya mempercepat urusan tanpa melalui prosedur yang sudah ditetapkan.

Contoh, adanya pungutan di samsat, karena masyarakat tidak mau ribet menjalankan step-by-step dalam mengurus surat-surat kendaraan. Padahal kalau mereka mau baca dan mempelajarinya, mudah koq. Hanya memang lebih memerlukan waktu dan ekstra tenaga. wajar!

Contoh lain, pungli di jalan raya oleh oknum polisi, ada karena dalam kebanyakan kasus, justru pelanggar lalu lintas lah yang meminta "damai lah pak..". Kenapa ada bahasa seperti itu? karena mereka tidak mau ribet ikut sidang atau bayar denda resmi sesuai peraturan UU lalu lintas.

Jadi kesimpulannya adalah Pungli akan terus ada selama kita masih menginginkannya. Selama orang-orang senang dengan jalan pintas. Selama masyarakat tidak mau diribetkan dengan langkah-langkah yang sudah seharusnya dilewati dalam sebuah proses untuk tujuan tertentu.

Meskipun ini hanya opini saya saja....

23 Maret 2016

Ribut Soal Taksi

Tidak ada komentar :
Beberapa hari yang lalu, Jakarta ramai dengan aksi demo sopir taksi si biru yang berujung anarkis. Bukti foto dan video yang terlanjur menjadi viral di media sosial dalam sesaat langsung memancing kegaduhan di masyarakat. Banyak yang menyayangkan atas sikap beberapa “oknum” pendemo yang melakukan kekerasan pada sesama rekan mereka sendiri, hanya karena ribut persoalan taksi online.


Menurut saya, inti persoalan taksi online ini akar masalahnya adalah di sistem pemberlakukan tarif yang “dianggap terlalu murah” jika dibandingkan dengan taksi konvensional. Hanya itu saja. Tak perlu terlalu jauh berbicara kebijakan pemerintah, atau sisi persoalan pemanfaatan teknologi aplikasinya, ataupun sisi
njelimet lainnya yang tidak kita pahami. 

Dengan pemberlakukan tarif yang cukup murah (bahkan mungkin agak irrasional bagi sebagian kalangan) ini tentunya menjadi senjata andalan untuk menarik minat konsumen. Terlepas dari bagaimana caranya operator taksi online ini menjalankan bisnisnya agar dapat tetap survive jangka panjang, itu urusan internal mereka. Yang pasti disini hukum ekonomi bekerja, kecenderungan konsumen adalah selalu memilih harga yang lebih murah. Dengan harga yang jauh lebih murah, toh mereka tetap mendapatkan aspek kenyamanannya juga karena mitra taksi online pun menggunakan kendaraan yang tidak kalah nyaman dan wangi pula.

Pertanyaannya, apakah taksi konvensional mau menurunkan tarifnya menjadi setara taksi online? jawabannya adalah TIDAK!. Alasannya pasti karena secara operasional perusahaan, tarif yang berlaku saat inilah yang bisa menutup cost operasional perusahaan.

Pertanyaan berikutnya, apakah taksi online suatu saat akan menyesuaikan tarif yang lebih masuk akal atau bahkan bisa menyamai tarif taksi konvensional? jawabannya adalah BISA YA, BISA JUGA TIDAK!. Kita tunggu saja....

Jadi untuk para pengamat, apalagi yang memang tujuannya sekedar ingin eksis di media, tolong jangan memperkeruh suasana dengan opini-opini yang bisa membuat kegaduhan ini terus meluas. Atau jangan-jangan ini memang sengaja disetting beberapa pihak tertentu untuk pengalihan isu lain yang lebih besar? 

Entahlah....


08 Maret 2016

Jika Semua Orang Kaya Raya

5 komentar :
Apakah pernah terpikirkan bagaimana jika semua orang kaya raya? Bagaimana jika setiap orang dapat merencanakan masa depannya dengan baik dengan menabung? Bagaimana jika setiap orang dapat bertanggungjawab dengan uang mereka dan tidak mencari kepuasan instan diatas segalanya? Bagaimana jika semua orang kaya dapat mengejar hal-hal yang mereka inginkan dalam hidup dan memiliki kebebasan dengan apa yang mereka punya? Bagaimana jika kekayaan adalah hadiah terbaik untuk diri, keluarga, masyarakat dan negara?


Jika gambaran kondisinya seperti diatas, akankah hukum ekonomi bekerja? akankah sistem kapitalisme runtuh dengan sendirinya? Apakah produktivitas berhenti? Akankah ini dapat memperbaiki aspek sosialis dan humanis manusia? Akahkah kita masih akan tetap bekerja jika kita kaya? Jika tidak, akahkah ada orang yang mau tetap mau bekerja dengan kita? Bagaimana jika tidak ada yang mau lagi bekerja? Bisakah robot melakukan semua pekerjaan yang dilakukan manusia? Ketika robot-robot itu rusak, bisakah kita tidak perlu bekerja untuk memperbaikinya?

Siapakah yang akan mempertahankan sistem? Apakah kita pikir peradaban manusia bisa tumbuh dan berkembang jika semua orang menjadi kaya raya? Jika semua orang kaya dan sama sekali tidak ada yang miskin, maka kekayaan hakikatnya menjadi tidak berguna. Jika miskin adalah kondisi yang didefiniskan sebagai "seseorang yang belum bisa memiliki hak-nya", maka tentu setiap orang akan berpikiran lebih baik untuk menjadi kaya. 

Tapi, bagaimana jika semua orang ternyata miskin? Apa yang akan mereka inginkan? Jika mereka semua ingin menjadi kaya, maka mereka akan pergi keluar rumah untuk bekerja keras supaya bisa menjadi kaya. Lebih jauh, secara masif ini akan membuat produktivitas itu nyata. Untuk sebuah bangsa, produktivitas masyarakatnya adalah modal untuk maju.

Pikirkan tentang hal ini......


03 Maret 2016

Tentang Pengetahuan dan Pembelajaran Baru

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com - Ada kalanya kita cukup bijaksana untuk mau terus belajar dan terus mencari tahu mengenai segala hal, tetapi tidak cukup bijaksana untuk mengendalikan pembelajaran dan pengetahuan kita, sehingga pada suatu ketika kita menggunakannya untuk menghancurkan diri sendiri. Bahkan jika memang seperti itu pada kenyataannya, adanya pengetahuan tetap akan dianggap lebih baik dari ketidaktahuan. 

Lebih baik untuk mengetahui, bahkan jika pengetahuan itu bertahan hanya untuk sesaat dan akhirnya akan memberi dampak kehancuran sebuah peradaban. Karena pada akhirnya, satu-satunya pilihan yang akan dihadapi manusia adalah : 

bagaimana menjadikan pengalaman manusia terdahulu sebagai bahan pembelajaran baru...

dan begitu seterusnya......

05 Februari 2016

Rumah Matahari

Tidak ada komentar :
Siang ini secara tidak sengaja mendapatkan bacaan menarik dari blognya pak budi raharjo. Salah satu komentar yang muncul dari postingan "Tentang Kota Bandung" berasal dari seseorang blogger juga bernama titintitan. Ketika saya coba mampir ke blognya langsung di titintitan.wordpress.com, tulisan-tulisannya sangat menarik. Gaya bahasa yang sederhana tapi disajikan dengan plot cerita yang menarik. Gambar ilustrasi pelengkap tulisannya pun cukup unik, dominan unsur air hujan yang ditampilkan secara animasi (gambar bergerak).

Dari sisi tampilan (template blog), sangat sederhana. Keseimbangan antara pesan yang ingin disampaikan penulis melalui cerita-ceritanya benar-benar dijaga dengan tidak terlalu menampilkan hiasan-hiasan widget yang mungkin bisa mengalihkan perhatian pembacanya.


Sebagai salam pembuka, penulis menyapa pembacanya seperti ini...

  selamat datang di rumah Matahari..
  tempat ternyaman untuk mengingatkan diri sendiri.
  berharap bisa membagi hal-hal baik yang bisa menjelma doa untuk semua.

  semoga betah, anggap saja rumah sendiri :’)

Lanjut ke isi postingan, kita akan serasa terhanyut dengan cerita yang dibawakan penulisnya dari awal sampai dengan akhir tulisan. Gaya penyampaian dengan bahasa yang ringan, meskipun beberapa bagian memang kerap tidak mengindahkan kaidah ejaan baku. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena memang mungkin inilah yang menjadi pembeda dari penulis lainnya. Pembeda itu tidak hanya muncul dalam paragraf per paragrafnya, tapi sudah terasa sejak awal bagian melalui cara penulis memberikan judul pada setiap tulisannya, begitu sederhana.

Karena menulis itu adalah sebuah seni, maka seni tak dibatasi. Kreatifitaslah yang memainkan peran penting.....

13 Januari 2016

Ilmu Pengetahuan : Berkah atau Kutukan ?

Tidak ada komentar :
Kepuasan konseptual seseorang dicapai melalui agama, filsafat dan kajian yang lebih baik. Namun kepuasan praktis kebutuhan manusia terpenuhi melalui teknologi, mulai dari teknologi sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Ilmu menjembatani kesenjangan antara pemenuhan konseptual dan praktis dari kebutuhan manusia yang beragam. Selain itu, sebagai pelengkap dari semuanya, ilmu pengetahuan memberikan keaslian karya agama, filsafat, sastra dan teknologi.

Ilmu adalah pengetahuan dicapai melalui praktik dan studi tentang alam dan semesta. Para ilmuwan mengeksplorasi hal-hal material dan mencoba untuk mencari tahu pola dan aturan untuk menjelaskan apa dan bagaimana semuanya bekerja. [ baca juga : kajian esensi dan konsep ilmu pengetahuan ]

Ilmu dapat dinyatakan sebagai berkah, tetapi juga kutukan. Hal ini bisa tergantung pada faktor bagaimana orang menggunakan dan berpikir tentang hal ini. Sekarang perlu dicatat bahwa orang-orang yang terkena dampak negatif oleh ilmu pengetahuan dapat merujuk sebagai kutukan tetapi orang-orang yang terkena dampak positif mungkin mengakuinya berkah. Dengan kata lain, itu adalah mentalitas dan pendekatan yang membuatnya menjadi berkat atau kutukan.

Praktis, ada banyak keuntungan dan kerugian dari ilmu pengetahuan. Beberapa orang menggunakan ilmu tidak tepat dan tidak benar, penyalahgunaan adalah satu-satunya alasan yang menciptakan kerugian dari ilmu selain manfaatnya yang beragam. Saya pikir, keuntungan terbesar dari ilmu, memberikan pengetahuan yang nyata dan terkordinasi tentang hal-hal dan peristiwa. Setelah ini, ilmu pengetahuan menyediakan dasar untuk teknologi yang memecahkan masalah yang tak terhitung jumlahnya dan menyediakan kemudahan kepada kita dalam situasi yang berbeda dari kehidupan.

Jika kita melihat pada kerugian dari ilmu pengetahuan, kita melihat, kadang-kadang orang melakukan hal-hal yang mengerikan dengan menggunakannya tidak benar, misalnya, menggunakan ilmu untuk dalam membuat senjata berbahaya yang ditujukan untuk saling melumpuhkan satu dengan lainnya.

Untuk menghindari penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita harus memiliki fondasi yang kuat dan batasan yang ketat agar semua resiko negatif yang berpotensi akan merugikan masyarakat dan lingkungan kita bisa dikendalikan. Dan agama bisa menjadi solusinya! karena seperti peribahasa, ilmu tanpa agama, LUMPUH. Agama tanpa ilmu pengetahuan, BUTA!

07 Desember 2015

Polisi yang Salah Kaprah? Ataukah Sebuah Realita Di Negeri Yang Semakin Aneh?

Topik sedang hangat dimedia sosial, terutama dikalangan pengguna speda motor. Ada beberapa kejadian pengemudi sepeda motor kena razia tilang dengan alasan motor sudah dimodifikasi. Ancaman dendanya tidak tanggung-tanggung, 24 juta rupiah!. Terlepas dari adanya pro-kontra dimasyarakat mengenai hal ini, ada hal yang lebih menggelitik pemilikan saya. Tapi maaf, ini hanya pendapat pribadi dari sudut pandang yang paling sederhana. Tanpa bermaksud membuat pembelaan ataupun pembenaran atas kondisi yang ada.

Menurut logika saya, jika polisi melakukan penilangan / razia terhadap sepeda motor yang telah dimodifikasi, maka ini adalah tidak tepat. Apalagi dengan nilai denda mencapai 24 juta rupiah. Meskipun (mungkin) memang ini ada dasar hukumnya dalam Undang-undang lalulintas. Kenapa saya katakan tidak tepat? Okelah, jika yang dirazia itu adalah knalpot bising, saya setuju. Atau pemasangan sirine dan strobo yang memang peruntukannya sudah diatur dalam undang-undang, itu saya juga setuju. Tapi diluar itu plis aturan pasal-pasalnya dalam Undang-undang lalulintas tidak boleh abu-abu yang bisa menimbulkan penafsiran beragam dimasyarakat.

Tindak Produsen, bukan Pemakai

Jika memang modifikasi sepeda motor itu memang dilarang, kenapa yang digaris bawahinya adalah perbuatan modifikasinya? Jika itu memang melanggar aturan, bukankah lebih baik polisi menindak tegas perusahaan yang membuat sparepart variasi motor? Atau setidaknya buat aturan mainnya bahwa sparepart non-orisinil bawaan pabrik harus tetap menggunakan bentuk dan fungsi standar motor. Tidak boleh mengandung unsur variasi, apalagi yang menimbulkan perubahan fungsi. Meskipun ini ujung-ujungnya juga sulit diterapkan karena masalah hak paten industri sparepart itu sendiri.

Konklusinya

  • Jika polisi tilang motor yang dimodif, kurang tepat. Karena sparepart modifikasi itu sendiri bebas dijual dan (mungkin) dinyatakan legal. Apalagi beberapa diantaranya sudah berlogo SNI. Apalagi jika modifikasi hanya bersifat tampilan / visual bukan merubah fungsi sebagian atau keseluruhan dari sepeda motor itu sendiri.
  • Jika polisi razia toko sparepart non-ori, kurang tepat. Karena jelas pemilik toko hanya memberikan alternatif kepada masyarakat. Entah itu alternatif harga sparepart yang lebih murah dari yang orisinil atau pabrikan, ataupun yang lebih baik / tinggi spesifikasinya dibanding dengan yang standar pabrikan.
  • Jika polisi razia pabrik sparepart non-orisinil? Inilah yang mungkin bisa dibilang “agak tepat”. Meskipun ini hanya sebuah mimpi disiang bolong... nggak akan mungkin dilakukan.

Jika alasannya adalah itu dapat berbahaya untuk pengemudi sepeda motor, bukankah safety riding itu lebih dititikberatkan kepada cara berkendara yang baik dan benar? Aspek fungsi perlindungan tubuh pengendara (dan bongcenger) dipenuhi, aspek kendaraan layak jalan dipenuhi serta aspek cara menjalankan kendaraan yang mematuhi rambu-rambu dijalan juga dipenuhi. 

Andai kedepan polisi lalulintas masih tetap melakukan razia tilang kepada sepeda motor yang dimodifikasi, ini sebuah tindakah salah kaprah atau memang inilah realita di negeri yang semakin Aneh?


08 April 2015

Kita Belum Anti-Kapitalis

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com - Situasi yang berkembang di negara ini belakangan koq makin tidak karuan ya? harga-harga sering naik turun seenaknya tanpa disadari. Harga premium naik hari ini, besok pagi bisa turun lagi. Beras bisa naik hari ini, besok bisa naik lagi tanpa bisa dihindari. Ongkos angkutan kota hari ini naik, besok bukan tidak mungkin akan naik lagi dengan alasan mengikuti harga kebutuhan lain. Inikah yang dinamakan sistem ekonomi pasar (bahasa halus dari ekonomi kapitalis)? dimana yang punya modal kuat yang akan berkuasa penuh diatas kepentingan-kepentingan lainnya.

Sebagian diantara penganut paham kapitalis menganggap memang inilah yang harus terjadi. Mekanisme pasar menjadi dalil pembenaran. Hukum ekonomi menjadi doktrin utama. Padahal paham ekonominya sendiri yang dijadikan acuan bukanlah bersumber dari ekonomi untuk kemakmuran bersama, melainkan hanya untuk menghidupi kalangan tertentu. Semuanya serba dikendalikan dengan uang sebagai modal utama. Ujung-ujungnya yang kaya akan semakin kaya, yang miskin akan semakin miskin. 

Anti Kapitalis
Image Souce : indocropcircles.wordpress.com
Lalu, siapa yang salah? jawabannya adalah kita! karena sebenarnya kitalah yang selalu membuka jalan para ekonom kapitalis itu tumbuh subur di negara ini tanpa disadari. Melalui berbagai 1001 trik dan tipu muslihat untuk melanggengkan kepentingannya dinegara ini.

Terkadang kita akan menjadi seorang pro-kapitalis, ketika ada sisi menguntungkan untuk diri kita, terlepas besar atau kecil, secara langsung ataupun tidak. Di lain waktu, kita akan menjadi seorang anti-kapitalis ketika melihat tidak ada sisi menguntungkan untuk kita...

Jadi pada dasarnya, kita masih menjadi seorang oportunis! hanya melihat sisi AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku), bukan apa manfaatnya bagi orang lain khususnya, atau masyarakat pada umumnya....

09 Desember 2014

Menjadi Dewasa Itu Pilihan

1 komentar :
aLamathuR.com - Hidup adalah kumpulan dari pilihan-pilihan. Kebijaksanaan diri dalam menyikapi setiap pilihan yang ada adalah sebuah jalan menuju kedewasaan. Percaya atau tidak, bagi sebagian orang menjadi dewasa pun ternyata tetap hanya menjadi sebuah pilihan. Sebagian dari kita masih berharap bisa tetap menjadi seorang anak kecil. Menjadi bebas. Menikmati dunia tanpa masalah. Mendapatkan perhatian luar biasa dari orang sekitar kita. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang rumit yang seringkali dihadapi oleh "orang dewasa". 

Menjadi dewasa, untuk sebagian orang lainnya memang hanya persoalan menunggu waktu saja. Persoalan mengasah karakter melalui kemampuan menempatkan sudut pandang tertentu terhadap sebuah masalah. Lebih jauh, proses mendewasakan diri menjadi tahapan untuk membentuk karakter yang lebih peka terhadap pemecahan masalah.

Karena jika sudah terbiasa membuat solusi terhadap masalah dengan tepat, saat itulah seseorang akan menjadi dewasa. Menjadi sukses. Setidaknya sukses secara pembentukan karakter....

07 Agustus 2014

Jauh atau Dekat? Saya Pilih Dekat ...

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com - Pertanyaan yang saya tuliskan dalam judul diatas sebenarnya hanya berangkat dari sebuah uneg-uneg ditengah-tengah situasi konflik yang terjadi di Gaza. Terlepas dari akan diarahkan kemana isu ini oleh berbagai pihak (yang merasa berkepentingan), saya merasa ada hal yang lebih penting untuk sama-sama kita renungkan. Karena ini menurut saya penting, meskpun mungkin belum tentu menurut Anda. 

Siang ini saya baca update-update di Facebook tentang kondisi Gaza, Palestine. Tentang berita invasi Zionis Israel ke jalur Gaza dengan dalih untuk melumpuhkan kelompok Hamas yang (katanya) menjadi sasaran utama. 

Rasa simpatik masayarakat dunia pun bermunculan disana-sini. Ada yang mengatasnamakan persaudaraan seagama, ada pula yang mengatasnamakan kemanusiaan. Intinya semua bermuara kepada keprihatinan akan kondisi disana saat ini. Berbagai kelompok berlomba-lomba menunjukkannya melalui penggalangan bantuan dana dengan berbagai model. Entah itu akan disalurkan dalam bentuk supply bahan makanan, obat-obatan, maupun pembangunan infrastruktur yang hancur karena serangan rudal-rudal Israel.

Banyak saudara saya yang tergugah untuk ikut serta menunjukkan kepedulian baik dengan cara menyumbang dana, sampai dengan yang "hanya sekedar ikut-ikutan" meneruskan broadcast BBM nya saja ke teman-temannya. Supaya kelihatan peduli gitchu.. hahaa..

Tapi ......

Sadarkah kita, bahwa ternyata jika kita mau lebih teliti, mungkin ada saudara-saudara yang ada di sekitar kita justru lebih memerlukan bantuan kita secara langsung. 

Penahkah kita mengetahui bahwa tetangga sebelah rumah kita yang sudah menjadi janda tua sudah mempunyai beras untuk bekal makan hari ini dan besok ???

Pernahkah kita mengetahui bahwa tetangga satu komplek dengan rumah kita yang baru saja kena PHK dari tempatnya bekerja, tidak lagi memiliki uang untuk bekal anaknya yang perlu segera bayar SPP-nya ???

Pernahkan kita mengetahui bahwa salah satu anak buah kita di kantor ternyata menderita penyakit kronis, tetapi malu meminjam uang, sedangkan dia memerlukan sumbangan biaya pengobatannya ???

Pernahkah kita .....???

Karena itu, menurut saya, memang tidak ada yang salah dengan rasa simpatik yang Anda tunjukkan terhadap (yang Anda akui sebagai) saudara yang ada jauh disana....Bagus malahan...

Hanya saja, jika Anda begitu pedulinya dengan yang jauh, Apakah Anda sudah bisa meyakinkan diri Anda sendiri bahwa Anda sudah cukup peduli dengan yang dekat.. yang ada di sekitar Anda ???

Semuanya kembali kepada diri Anda. Karena saya hanya berArgumen.....

22 Januari 2013

Bohong Juga Bisa Bikin Gemuk

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com – Jika saya melontarkan satu pertanyaan apakah Anda sepakat dengan artikel yang ditulis AN Uyung Pramudiarja di situs detik edisi 21 Januari 2013 dengan judul “Hati-hati, banyak bohong juga bisa bikin gemuk”. Jawaban Anda mungkin sangat setuju, biasa saja atau bahkan bisa sangat tidak sependapat. Apakah yang Anda pikirkan?

Logika yang dikemukakan dalam artikel tersebut memang sebenarnya cukup masuk akal, hanya saja jika saya kaitkan ini dengan pengalaman pribadi, maka ada sedikit benarnya juga.

Dulu, saya akui “trik berbohong” beberapa kali sempat saya pelajari dan praktekan. Hasilnya? Badan saja gemuk (biarpun masih dalam batas wajar). Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, ketika saya sudah insyaf dari kebiasaan berbohong, sekarang saya (agak sedikit) kurus. Entah ini ada hubungannya atau tidak. Setidaknya pola makan dan olahraga saya tidak ada bedanya antara dulu dan sekarang.

Tapi harap dicatat, pengalaman yang saya alami bukanlah untuk menjadi pembenaran untuk siapa saja yang saat ini sedang dalam masa terapi ingin menggemukkan badan, lantas jadi suka bohong. Tentu tidak. Karena pada hakikatnya, hal jujur tentu akan lebih mulia dibanding harus berbohong dalam hal apapun juga.

Bagaimana dengan Anda?

Banjir : Mirip Surat Kabar

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com – Dalam beberapa bulan terakhir, bangsa ini seperti tak henti-hentinya ditimpa bencana dan musibah yang tak terduga. Tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus sampai yang terhangat adalah musibah banjir yang turut menenggelamkan sebagian besar wilayah ibukota Negara. Ada apakah dengan bumi kita? Atau, adakah yang salah dengan perilaku kita sebagai manusia yang notabene sudah diamatkan untuk menjaga bumi ini?

Memang, pada hakikatnya semua sudah digariskan sebagai sebuah takdir dari Yang Maha Kuasa. Tapi pertanyaannya adalah apakah ini sebatas sebagai ujian ataukah teguran? Setiap pribadi kita pasti memiliki pandangan masing-masing dalam mempersepsikan ini.

Tapi dibalik semua ujian (ataupun teguran) ini, satu hal yang tak boleh dilupakan manusia adalah mengambil hikmah dan pelajaran dibalik setiap datangnya musibah. Dalam arti, bukan hanya diam, pasrah, menerima saja, tanpa melakukan apapun yang seharusnya disyariatkan untuk diperbaiki, tetapi dengan mengambil langkah konkrit yang tujuannya bersifat preventif (pencegahan).


Terlebih jika kita perhatikan salah satu kecenderungan masyarakat dalam menanggapi musibah banjir yang sifatnya rutin, misalkan tahunan atau lima-tahunan seperti di Jakarta. Sebagian diantara mereka berkata “Ahh.. ini sudah biasa koq, sudah langganan”.


"Dipikirnya banjir mirip Surat Kabar kali, bisa langganan.... Ada-ada saja".

04 Desember 2012

Membanggakan Orang Lain

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com – Umur kita semakin hari hakikatnya adalah semakin berkurang. Yang bisa kita makan, makanlah. Yang bisa kita pakai, pakailah. Yang bisa kita mainkan, mainkanlah. Tapi, untuk sesuatu yang bisa kita banggakan, janganlah sesekali kita berbangga hati dulu! Kenapa? Karena sifat membanggakan (diri) tak akan melahirkan pribadi yang senantiasa lapar untuk memperbaiki diri. Lantas, bagaimana dengan membanggakan orang lain? Bolehkah?

Jawabannya bisa bermacam-macam (tergantung dari sudut pandang kita)! Tapi secara umum, beberapa yang pernah atau bahkan sering kita temui pada dasarnya ada 3 macam, diantaranya :


  • Sebagian dari kita selalu membanggakan keberhasilan orang lain demi menumbuhkan motivasi bagi diri atau lawan bicara kita. Biasanya yang menjadi subjek dibanggakan adalah figur-figur sukses, terkenal, dan berhasil dalam bidangnya. Contoh : pengusaha, artis, ilmuwan dst.
  • Sebagian lainnya dari kita, selalu membanggakan kesuksesan orang lain (sekalian) demi mengangkat gengsi (harga diri) di depan lawan bicara. Biasanya yang menjadi subjek dibanggakan adalah orang-orang yang “dianggap berhasil”, tapi yang masih ada hubungan dengan diri atau keluarga kita. Contoh : paman saya “yang sukses”, om saya “yang berhasil” dst.  
  • Sebagian lainnya selalu membanggakan figur terdekat dengan diri kita sebatas ingin menunjukkan kebanggaan tanpa ada motif apa-apa. Biasanya yang menjadi subjek dibanggakan adalah orang-orang dekat yang special, misalkan pacar. Beberapa diantara kita mungkin pernah ada menemui orang yang berkata : “ini loh pacar saya..”, “ini loh suami saya..”, atau “ini loh majikan saya..” dst. Hal ini semata hanya ditunjukkan dengan perasaan bangga saja. Tanpa bermaksud memotivasi orang, ataupun membanggakan diri sendiri.


Ada lagi yang menambahkan?

Sekali lagi, semuanya kembali kepada sudut padang masing-masing. Karena beda kepala, beda pula isi kepalanya (baca : pemikirannya)…

21 April 2011

Tulang Rusuk Itu Berubah Menjadi Tulang Punggung

5 komentar :
aLamathuR.com – Hari ini, 21 April, bangsa kita memperingati kembali hari lahirnya seorang pejuang perempuan  yang dikenal sebagai penggagas emansipasi, bernama R.A. Kartini.  Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata Emansipasi sendiri mengandung pengertian pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dari definisi tersebut, tercermin  makna bahwa Kartini telah dianggap berjasa oleh bangsa ini dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, khususnya perempuan Indonesia pada masanya.

Berpuluh tahun kemudian, semangat Kartini ini tetap terjaga dan bahkan terus berkobar di dada perempuan-perempuan Indonesia hingga kini. Emansipasi yang awalnya hanya sebatas perjuangan untuk penegakan hak dasar, berkembang menjadi tuntutan persamaan derajat dalam segala aspek kehidupan. Kehidupan sosial, budaya hingga ekonomi tidak luput dari garapan isu emansipasi.

Di era modern seperti sekarang ini, banyak sosok perempuan yang memegang peranan vital dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam beberapa situasi mungkin perempuan bisa lebih memegang peranan dibanding laki-laki. Tidak sedikit pula diantara mereka yang berpredikat sebagai sosok yang multitasking. Di satu sisi mereka bertindak sebagai ibu rumah tangga, sebagai pengasuh bagi anak-anaknya, sebagai teman bagi suami-suami mereka, dan disisi lain mereka juga memegang peranan sebagai pencari nafkah.

Sebagian diantara mereka bertindak sebagai pencari nafkah tambahan, karena dirasa penghasilan suaminya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian lainnya bertindak sebagai pencari nafkah utama karena satu dua kondisi yang mengharuskan mereka menjadi satu-satunya tumpuan keluarga. Mereka berjuang untuk bisa bertahan hidup, memenuhi kebutuhan sandang-pangan diri dan keluarganya, serta memegang tanggung jawab yang tidak ringan.

Jika dalam agama dikenal istilah bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, maka saat ini sebagian dari tulang-tulang rusuk ini telah bermetamorfosis menjadi tulang punggung. Menjadi tulang punggung bagi diri mereka sendiri, keluarga dan orang-orang yang mereka pedulikan. Dan memang inilah salah satu fenomena dalam kehidupan .....

Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia....

22 November 2010

Merapi Diprioritaskan, Mentawai dan Wasior? Nanti Dulu...

9 komentar :
aLamathuR.com - Uneg-uneg ini sebenarnya sudah muncul sekitar seminggu yang lalu, tetapi baru hari ini bisa saya tuangkan sebagai posting blog. Sebuah opini yang berasal dari perspektif pemikiran pribadi terkait fenomena bencana alam yang sedang diujikan Tuhan kepada bangsa ini. Satu minggu yang lalu, saya dan beberapa teman terlibat dalam sebuah obrolan sederhana tentang berbagai bencana yang sedang dihadapi bangsa ini. Bahasannya tentu tidak jauh dari seputar bencana tsunami di Mentawai, banjir di Wasior serta letusan gunung Merapi. Apakah yang saya dapatkan dari obrolan singkat tersebut?

Obrolan sederhana kami ternyata memunculkan persepsi yang hampir sama bahwa "Penanganan bencana di negeri ini masih belum merata dan terkesan tidak adil". Lihatlah dalam perkembangan media-media saat ini, bagaimana korban bencana merapi masih bisa mendapatkan penanganan yang lebih baik dibandingkan dengan korban tsunami Mentawai atau banjir Wasior. Padahal bukankah ketiga-tiganya bisa dikatakan sebagai bencana nasional?

Entahlah, begitu banyaknya alasan yang sudah dilontarkan oleh pihak-pihak yang seharusnya terkait dalam menanggapi persoalan ini. Salah satu alasan klasik dalam kendala penanganan korban bencana tentu saja adalah terkait medan yang sulit dalam penyampaian bantuan. Jadi logikanya, semakin sulit dijangkau kawasan bencana, maka semakin kecil peluang untuk mendapatkan penanganan yang maksimal. Jika Anda pernah menyaksikan liputan di televisi mengenai proses penyaluran bantuan untuk korban banjir Wasior, dimana bantuan bahan pangan dan obat-obatan yang dikemas dalam kardus-kardus banyak yang 'hanya' dilemparkan dari pesawat. Pelemparan bantuan dalam kondisi ketinggian dan kecepatan  pesawat yang tergolong masih tinggi tersebut, apakah cara penyaluran seperti itu akan efektif? Bagaimana jika kardus-kardus bantuan itu jatuh di kubangan air misalnya? hhmmm...

Nasib korban bencana Mentawai setali tiga uang dengan korban Wasior. Meskipun diawal publikasinya cukup menarik simpati yang cukup besar dari masyarakat Indonesia, tetapi situasinya berubah pasca bencana letusan gunung Merapi terjadi. Publikasi media, penggalangan bantuan, pengerahan sukarelawan dsb ternyata lambat laun mulai mendominasi perhatian negeri ini.

Bukti nyata, beberapa stasiun televisi swasta sampai hari ini masih gencar-gencarnya menggalang bantuan untuk disalurkan ke korban merapi. Masyarakat dari berbagai lapisan dari mulai pejabat, anak sekolah, sampai komunitas jalanan begitu semangatnya menggalang dana untuk membantu korban bencana merapi. Bukti lain, bagaimana media memberitakan soal pembahasan nominal ganti rugi ternak sapi dan kambing yang mati karena wedus gembel. Untuk bencana Mentawai dan Wasior apakah ada wacana semacam itu?. Jika saya harus berbaik sangka, maka saya harus meyakinkan diri saya bahwa masyarakat Mentawai dan Wasior memang tidak ada yang memiliki hewan ternak... hahaaaa..
Jadi, sebenarnya pihak mana saja yang saat ini masih peduli dengan korban banjir Wasior atau Mentawai?

Saya tegaskan sekali lagi bahwa ini adalah opini pribadi. Anda boleh setuju, boleh juga tidak. Tetapi fakta yang saya temui di sekitar lingkungan kerja saya juga demikian. Beberapa hari yang lalu di kantor dilakukan penggalangan dana untuk korban bencana merapi. Lalu dalam pikiran saya, kenapa tidak sekalian untuk Mentawai dan Wasior? bukankah mereka juga masih perlu bantuan yang banyak?

Ahh.. sekali lagi saya dibuat penasaran dengan argumentasi yang saya ciptakan sendiri. Saya lontarkan opini ini kepada beberapa rekan kerja di kantor, dan beberapa teman diskusi dalam komunitas. Hasilnya? banyak diantara mereka sepaham dengan saya. Mereka merasa bahwa penanganan bencana di negeri ini memang harus bisa lebih optimal dan lebih adil lagi... Karena baik masyarakat Mentawai, Merapi dan Wasior adalah sama-sama bagian dari bangsa ini, yang berhak mendapatkan perlakuan dan perhatian yang sama dari semua pihak, terutama dari pemerintah...

Bukan begitu, begitu bukan ???

10 November 2010

Refleksi Peringatan Hari Pahlawan

6 komentar :
aLamathuR.com - Selamat pagi rekan blogger semua! Masih ingatkah dengan apa yang bangsa ini selalu peringati disetiap tanggal 10 November yang jatuh tepat pada hari ini? Yup, inilah saatnya bangsa Indonesia memeperingati hari pahlawan. Inilah momen dimana jasa para pahlawan-pahlawan dihargai dan dikenang oleh generasi ini bahkan sampai generasi setelah kita. Bukan superhero, ataupun pahlawan bertopeng pujaan Crayon Sinchan yang sedang kita peringati perjuangannya, melainkan para pahlawan yang telah gugur membela bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaan dimasa lalu. Sebagai generasi penerus, apakah yang bisa kita pelajari dari setiap peringatan hari besar nasional ini?


Pahlawan. Dalam pemahaman saya, adalah seseorang yang telah berjasa besar dalam memperjuangkan sesuatu hal. Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, maka pahlawan adalah seseorang yang berjasa besar dalam memperjuangkan kemerdekaan dari tangan para penjajah negeri ini. Dimasa lalu, mereka telah rela mempertaruhkan jiwa, raga dan pikirannya untuk membebaskan negara ini dari pengaruh bangsa-bangsa penjajah.

Sebagian besar dari kita tentu pernah mengetahui bagaimana gigihnya perjuangan para pahlawan ini melalui materi-materi pelajaran sejarah yang kita terima sewaktu sekolah. Diwaktu SD, tentu kita pernah membaca tentang pejuang-pejuang tangguh negeri ini baik dari jaman sebelum era kebangkitan nasional maupun setelah gerakan modern seperti Boedi Oetomo didirikan pada tahun 1908. 
Tokoh-tokoh pejuang seperti Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Pattimura, dll tentu sudah tidak asing lagi dengan telinga kita. Tetapi bagaimana dengan nama-nama seperti Datuk Sinaro Panjang, Motang Rua, Wolter Monginsidi, RM Tirto Adhi Soerjo, Teuku Nyak Arief dll? apakah diantara kita ada yang sudah lupa-lupa ingat dengan nama-nama tersebut? hhmmm....
Terlepas dari sempat munculnya pro-kontra mengenai keakuratan data beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu, selayaknya hal itu jangan sampai mengurangi kecintaan kita terhadap para pahlawan Indonesia. Jangan sampai segala jerih payah perjuangan mereka dilupakah oleh generasi ini, apalagi generasi yang akan datang. Inilah yang akan menjadi tantangan kita untuk senantiasa bisa menanamkan kecintaan dan penghargaan yang luhur untuk jasa-jasa mereka di masa lalu. Karena bagaimanapun, kemerdekaan yang sedang kita nikmati saat ini, bukankah itu adalah andil besar mereka juga?

Melalui momen peringatan hari pahlawan 10 November tahun ini, marilah kita menggali kembali memori perjuangan para pendahulu kita yang telah banyak berjasa dalam mewujudkan kemerdekaan di tanah air tercinta, Indonesia. Jadikah semangat yang mereka miliki sebagai pemacu kita untuk bisa lebih baik lagi dalam mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang lebih bermanfaat...

Akhir kata, untuk Indonesia saya mengucapkan :

"Selamat memperingati hari pahlawan....!!!"

28 Oktober 2010

Ikrar Sumpah Pemuda Ternyata Hanya Tentang Dua Hal!

24 komentar :
aLamathuR.com - Hari ini, tepat 82 tahun yang lalu, bangsa ini memasuki babak baru dalam perjuangannya menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia. Tiga hal yang diikrarkan melalui momen Sumpah Pemuda telah berhasil menyatukan banyak komponen perkumpulan pemuda yang semula berjuang sendiri-sendiri. Melalui pelajaran sejarah yang kita terima sewaktu sekolah, tentu kita sudah pernah mendengar perkumpulan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Pemoeda Kaum Betawi, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Islamiten Bond dll. Melalui sebuah kongres pemuda yang diketuai oleh Soegondo Djojopoespito (dari PPPI), ikrar Sumpah Pemuda tercetus pada 28 Oktober 1928 di Waltervreden (sekarang Jakarta).

Merujuk kepada teks aslinya, ketiga hal yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda mencakup tiga aspek yaitu:

  1. Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia
  2. Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
  3. Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Jika melihat dari ketiga ikrar diatas, ternyata ada hal menarik untuk dicermati terkait dengan fenomena bertolak belakang yang terjadi dimasyarakat akhir-akhir ini, khususnya dikalangan generasi muda dikota-kota besar. Apakah itu?

Coba perhatikan ikrar Sumpah Pemuda nomor 3 (tiga), kemudian bandingkan dengan fenomena yang berkembang dikalangan generasi muda bangsa ini akhir-akhir ini. Apakah yang terjadi dengan generasi muda bangsa ini terkait penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan? Aakh, sebenarnya saya paling tidak suka untuk mengakui kalau generasi muda (baca: anak gaul) di negeri ini lebih suka dengan bahasa slang dibanding dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Anggapan yang dianggap lazim dikalangan muda-mudi adalah bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar itu hanya cocok untuk situasi formal saja. Dunia pendidikan, dunia usaha, dan dunia-dunia yang memerlukan etika khusus dalam berbahasa, itulah yang paling relevan dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Jadi dalam pandangan mereka, untuk pergaulan sehari-hari (baca: informal) tak perlu lah dengan bahasa-bahasa yang baik dan benar, apalagi harus baku! "No Way! Nggak gue banget gitu lohh...!"

Entahlah apa yang menjadi cikal bakal semakin maraknya penggunaan bahasa-bahasa slang dinegeri ini. Perhatian saja disekitar kita, berapa banyak orang-orang yang lebih suka menggunakan kata-kata seperti 'gue', 'elo', 'bokap', 'nyokap' dll dibanding dengan istilah 'saya/ aku', 'anda/ kamu', 'ayah', 'ibu' dll? Doktrin yang berkembang seakan-akan kalau tidak bisa menyesuaikan dengan bahasa-bahasa seperti itu dianggapnya tidak gaul, ketinggalan jaman dst.... Hhhhmmmm...

Mungkinkah generasi muda di negeri hanya mengenal bahwa ikrar Sumpah Pemuda itu hanya tentang dua hal saja? bertumpah darah satu dan berbangsa satu saja? diluar itu ikrar yang menyatakan bahwa menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia itu tidak pernah diajarkan..??

Kalau sudah begitu, mau dibawa kemana bahasa Indonesia?


****************************
Tulisan ini telah diikutsertakan dalam peringatan Soempah Pemoeda Bersama XL, yang dapat anda lihat di http://soempahpemoeda.org



30 September 2010

Bukti Bahwa Melamun Pun Ada Manfaatnya

7 komentar :
alamathuR.com - Saat ini, mungkin baru beberapa dari kita yang menyadari bahwa terkadang waktu melamun itu adalah waktu yang berkualitas. Dalam 'ritual' unik ini, pikiran kita akan dibiarkan terbebas mengembara kemana-mana tanpa batas. Mengenali peristiwa-peristiwa yang sudah ataupun belum pernah kita alami, atau membayangkan jalan-jalan yang pernah ataupun belum kita lewati. Ketika pikiran kita mengembara, seringkali secara tidak sadar kita menemukan jawaban-jawaban atas suatu permasalahan yang sedang kita hadapi, menemukan ide-ide baru, atau konsep-konsep spiritualitas.

Ada sebuah fenomena unik terkait dengan kebiasaan melamun ini yang saya dapat dari pengalaman beberapa teman saya. Beberapa orang diantara mereka sepakat mengatakan bahwa salah satu tempat dan waktu favorit untuk melamun adalah ketika kita berada ditoilet untuk *****. Dalam situasi tersebut tidak jarang mereka merasa bisa menemukan inspirasi ketika melamun. Mungkin Anda juga sependapat? hahaaa....

Hanya saja, dalam melakukan ritual melamun ini juga jangan sampai kebablasan. Kenalilah tempat dan situasinya dengan tepat. Kan tidak lucu juga jika Anda melamun ketika mengikuti meeting dengan rekan kerja di kantor. Bisa-bisa bukannya ide dan solusi yang didapat, tetapi Anda malah ditegur dan diusir keluar ruangan oleh atasan Anda.