23 November 2016

Pengumuman : BLOGERNAS hidup lagi!

Tidak ada komentar :
Erianto Anas
Pengumuman : blogernas hidup lagi. Masih dengan author blog yang sama : Erianto Anas. Blogger lama yang beberapa tahun lalu sering berseliweran di jagat blogosphere, termasuk sering juga mampir di blog ini. Coba saja cek beberapa komentar "padat berisi" yang pernah ditinggalkannya di blog ini, terutama terkait topik menulis blog. Karena dia bukan termasuk blogger penderita "nice info syndrome". (dalam kamus blogernas, golongan ini diistilahkan sebagai blogger kentut).

Blogernas yang sekarang memang beda. Sudah bukan lagi dengan domain gratisan seperti dulu, tapi sudah terlihat lebih profesional dengan dotkom-nya. Isinya belum gak lagi bicara filsafat, bahasanya belum gak garang lagi. Tampilan layoutnya masih tetap simple dan rapi. Tapi tidak tau sampai kapan akan seperti itu.... hanya dia yang tahu.

Melihat dari arsip postingnya, blog yang versi baru sudah lahir dari beberapa bulan lalu, tapi kenapa belum booming seperti waktu masih berdomain gratisan yah? entahlah.. mungkin memang saya nya aja yang sekarang jadi agak kuper. Jadi rada-rada ketinggalan blog yang lagi happening sekarang...

Tapi jika saya boleh menebak, setelah saya buatkan review khusus seperti postingan ini, insya Allah dalam beberapa bulan kedepan blognya akan kembali booming. Asalkan dengan satu syarat : Blogernas berani buat iklan di TV, atau setidaknya di radio RRI (...halah).

Cukup dulu ah ceritanya. Segitu aja dulu.....

22 November 2016

Kemana Solar di Bandung?

Tidak ada komentar :
Sudah hampir sebulan, kendaraan operasional kantor tempat saya kerja mulai susah untuk isi BBM jenis solar. Hampir seluruh SPBU yang ada di kota Bandung sudah beralih ke Dexlite. Masalahnya kebijakan internal kantor masih belum berubah : tidak diperkenankan menggunakan BBM jenis lain kecuali solar!. Apa boleh buat. Inilah waktunya untuk berjuang melobi para pejabat perusahaan.

Sepi pemberitaan
Iseng googling mencari info terkait langkanya Solar di kota Bandung, beritanya sangat minim. Hampir tidak ditemukan publikasi resmi baik dari pihak pertamina (sebagai pemegang kuasa distribusi bbm di negeri ini) maupun dari para pengusaha SPBU terkait peralihan solar ke dexlite ini.

Cukup 50 ribu saja...
Minggu lalu, saya sendiri setidaknya sudah survey on the spot ke lebih dari 12 SPBU di wilayah kota bandung. Hasilnya? sudah tidak ada yang jual solar lagi! semuanya diganti dexlite. Meskipun ada beberapa SPBU yang belum sempat mengganti billboardnya (masih tercantum SOLAR), ternyata sama saja, sudah tidak menjual solar.

Akhir pekan kemarin, driver sempat laporan ke saya bahwa dia berhasil menemukan SPBU yang masih menjual solar. Akhirnya dia mampir. Tapi apa mau di kata, niat mengisi full-tank, ternyata pihak SPBU hanya mengijinkan untuk diisi Rp 50ribu saja per mobil. Whatt??? mana cukup???

Perusahaan pun mulai menghitung
Jika hitung-hitungan diatas kertas, wajar perusahaan masih berpikir ulang untuk merubah kebijakan solar ke dexlite. Lha wong selisih harga jualnya lumayan, selisih hampir Rp 1.500,-/liter. Jika asumsinya per hari mobil harus diisi 20 liter saja, maka selisih yang muncul adalah Rp 30ribu. 

Jika dikalikan 25 hari kerja (1 bulan), maka akan didapat angka Rp 750ribu. 
Jika dikalikan dalam setahun maka akan menjadi Rp 9 juta.
Jika dikalikan dalam lima tahun maka akan menjadi Rp 45 juta.

Dengan diasumsikan satu unit asset kendaraan operasional perusahaan disusutkan selama 5 tahun, maka nilai Rp 45 juta cukup untuk membeli armada sepeda motor tambahan sebanyak 3 unit yang bisa digunakan untuk salesmen motoris. Nah loh... lumayan kan?

Tapi sudahlah, analisa diatas hanya sebuah ilustrasi pengandaian saja. Toh hitungan sebenarnya juga mungkin tidak seperti itu.....


Nikon D5600, Andalan Baru Fotografer Pemula

Tidak ada komentar :
10 November 2016 ini Nikon memperkenalkan seri terbarunya D5600. Kamera DSLR yang masuk dalam jajaran midrange DX-format dengan sensor 24,2MP CMOS dan prosesor terbaru EXPEED 4. Kombinasi ini menawarkan rentang ISO dari 100-25.600, sedangkan 39-point AF system dapat melacak subjek dalam '3D'. Dengan dibekali LCD 3,2 inch touchscreen, Wi-Fi, Bluetooth, ditambah fitur NFC untuk sinkronisasi instan dengan perangkat Android.

Sebagai tambahan info, NFC adalah Near-Field Communication, yaitu salah satu teknologi komunikasi antar gadget terbaru yang menggunakan sistem RFID (Radio Frequency Identification) untuk saling bertukar data dalam jarak dekat. Teknologi NFC ini memungkinkan pertukaran data antar gadget dan alat hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik. Tidak perlu lagi setting manual koneksi seperti ketika pengguna masih menggunakan sinyal Bluetooth, NFC sudah secara otomatis mengkoneksikan kedua perangkat dengan cepat sesuai kebutuhan.

Mengenai harga, Nikon D5600 ini merupakan kamera yang memiliki harga yang relatif terjangkau karena dalam peluncurannya produk ini memang masuk dalam ketegori kelas menegah kebawah.

Berikut spesifikasi lengkap Nikon D5600 dikutip dari dpreview :

Body type
Body type
Compact SLR
Sensor
Max resolution
6000 x 4000
Other resolutions
4496 x 3000, 2992 x 2000
Effective pixels
24 megapixels
Sensor photo detectors
25 megapixels
Sensor size
APS-C (23.5 x 15.6 mm)
Sensor type
CMOS
Processor
Expeed 4
Image
ISO
Auto, 100 - 25600
White balance presets
12
Custom white balance
Yes
Image stabilization
No
Uncompressed format
RAW
JPEG quality levels
Fine, Normal, Basic
Manual focus
Yes
Number of focus points
39
Lens mount
Nikon F
Focal length multiplier
1.5×
Screen / viewfinder
Articulated LCD
Fully articulated
Screen size
3.2
Screen dots
1,037,000
Touch screen
Yes
Screen type
TFT LCD monitor
Live view
Yes
Viewfinder type
Optical (pentamirror)
Viewfinder coverage
95%
Viewfinder magnification
0.82×
Photography features
Minimum shutter speed
30 sec
Maximum shutter speed
1/4000 sec
Aperture priority
Yes
Shutter priority
Yes
Manual exposure mode
Yes
Subject / scene modes
Yes
Built-in flash
Yes (Pop-up)
Flash range
12.00 m (at ISO 100)
External flash
Yes (Hot-shoe)
Flash modes
Auto, On, Off, Red-eye, Slow sync, Rear curtain
Continuous drive
5.0 fps
Self-timer
Yes (2, 5, 10 or 20 sec)
Metering modes
  • Multi
  • Center-weighted
  • Spot
Exposure compensation
±5 (at 1/3 EV, 1/2 EV steps)
WB Bracketing
Yes (3 frames in either blue/amber or magenta/green axis)
Videography features
Format
MPEG-4, H.264
Microphone
Stereo
Speaker
Mono
Storage
Storage types
SD/SDHC/SDXC
Connectivity
USB
USB 2.0 (480 Mbit/sec)
HDMI
Yes (mini-HDMI)
Microphone port
Yes
Headphone port
No
Wireless
Built-In
Wireless notes
802.11b/g/n with Bluetooth 4.1 LE and NFC
Remote control
Yes (MC-DC2 (wired), WR-1/WR-R10 (wireless))
Physical
Battery description
EN-EL14a lithium-ion battery & charger
Weight (inc. batteries)
465 g (1.03 lb / 16.40 oz)
Dimensions
124 x 97 x 70 mm (4.88 x 3.82 x 2.76)
Other features
Orientation sensor
Yes
Timelapse recording
Yes
GPS
Optional
GPS notes
Optional GP-1/GP-1A


02 November 2016

Selamat Tinggal Syrofoam!

Tidak ada komentar :
Per hari Selasa kemarin (1/11/2016), aturan pelarangan styrofoam di Kota Bandung sudah mulai diberlakukan. Produsen dan masyarakat diimbau tidak menggunakan lagi styrofoam untuk kemasan produk. Terkait kebijakan ini, Walikota Bandung menegaskan bahwa jika setelah tanggal 1/11/2016 masih ada yang belum mematuhi, maka akan diingatkan dulu secara lisan. Kemudian kalau masih juga pakai styrofoam, maka akan diingatkan secara tertulis. Kalau masih membandel juga, maka akan dicabut izin usahanya.

Kebijakan ini langsung memberikan efek nyata, setidaknya hal ini terlihat ketika sehari sebelum diberlakukan, Kota Bandung mendapat berita baik dari Indofood. Perusahaan yang sangat identik dengan penggunaan styrofoam untuk kemasan salah satu produk unggulannya yaitu PopMie, bersedia mengikuti kebijakan pemusnahan styrofoam. Bahkan, kedepan tidak hanya untuk cakupan Kota Bandung, Indofood juga akan melakukan peralihan penggunaan styrofoam menjadi karton di seluruh indonesia.

Pertanyaan berikutnya: apakah kita punya alternatif pengganti styrofoam? Beberapa alternatif kemasan yang dapat digunakan sebagai pengganti styrofoam diantaranya: 

Kotak Makan (Misting) 
Sebagai seorang karyawan yang tidak pernah lupa membawa bekal makan siang dari rumah ke kantor, saya termasuk yang paling sering menggunakan misting dalam keseharian. Dengan begitu kita juga dapat mengurangi penggunaan kemasan, baik styrofoam maupun bahan lainnya. Membawa kotak makanan sendiri juga memberi jaminan kontaminasi pada makanan sesedikit mungkin. Tapi sepertinya kotak makan saat ini belum akan menjadi pilihan bagi pelaku bisnis dalam mengemas produk jualannya. Pastinya ini terkait dengan cost yang harus dikeluarkan yang bisa jadi akan menjadi lebih mahal dibanding makanan / barang yang dikemasnya.

Besek Bambu
Kemasan makanan bambu ini, selain ramah lingkungan, juga (bagi sebagian orang) memberikan unsur estetiknya sendiri, meskipun sebagian lainnya mungkin sudah menganggapnya sesuatu yang kuno. Karena itu, sepertinya besek kurang begitu populer di kota, beda halnya dengan di daerah (a.k.a kampung). Selain itu besek bambu juga dapat digunakan berkali-kali sehingga mengurangi penggunaan kemasan makanan.

Kertas Nasi (ada lapisan anti lengketnya)
Salah satu alternatif kemasan pengganti styrofoam adalah kertas nasi. Di Indonesia sendiri telah banyak produsen kemasan makanan berbahan dasar kertas yang tahan minyak dan air sampai tingkat tertentu. Kemasan makanan berbahan dasar kertas juga memberikan kesan minimalis yang dapat menambahkan nilai jual makanan. Selain itu, kertas juga dapat didaur ulang sehingga potensi untuk berakhir di TPA menjadi berkurang.

Selama ini di kota Bandung khususnya, produk makanan yang menggunakan kemasan styrofoam memang tidak terbatas pada produk makanan instan seperti PopMie saja, melainkan justru lebih banyak digunakan pada kemasan jajanan atau kuliner lokal seperti seblak,  batagor, lumpia basah, bubur ayam, nasi tim dan lainnya.

Setelah adanya kebijakan pelarangan styrofoam ini jangan kaget jika nanti ditemukan seblak yang dikemas dengan besek misalnya. meskipun tetap akan terlihat sedikit aneh..... 

01 November 2016

Pacul Made In Tiongkok

Tidak ada komentar :
"Pacul bisa diproduksi di dalam negeri. Memang selama ini sebagian besar di dalam negeri. Tapi karena permintaan terhadap cangkul besar makanya impor,". Kira-kira seperti itulah pernyataan pak menteri perindustrian saat ini, Airlangga, meneruskan pernyataan sebelumnya yang membenarkan bahwa Indonesia memang ada impor (cangkul), tapi jumlahnya kecil hanya 86.000 saja, sedangkan kebutuhan dalam negeri saat ini sampai 10 juta. Hitungan persisnya bagaimana, saya juga belum mendapatkan data jelas dan valid.

Tapi ketika berita ini menjadi viral, pak Menteri kemudian mengadakan rapat khusus membahas ini beserta kementrian perdagangan. Hasilnya? Pak Menteri menegaskan jika pemerintah tidak akan melakukan impor cangkul lagi. Sebab, beberapa industri seperti Krakatau Steel, Barata dan IKM disebut telah setuju untuk memproduksinya.

Jika memang demikian, (mungkin) jika kita mau berpikir segi positifnya adalah ternyata bangsa kita harus “dicambuk” dulu untuk bisa bangkit. Dalam kasus pacul, sepertinya pemerintah menyentil industri pacul dalam negeri untuk bisa segera menggenjot produksinya, karena jika tidak maka pacul made-in tiongkong sudah siap didatangkan.

Bahkan jika kita perhatikan, sebetulnya pacul hanya bagian kecilnya saja dari upaya memasukkan barang-barang made-in tiongkok ke negeri ini. Gak percaya? Silahkan anda buka salah satu website e-commerce terkenal di Indonesia (Laz*da), banyak sekali barang yang dijual memang berasal dari seller luar negeri (tiongkok) bahkan sampai gratis ongkos kirimnya pun digratiskan! 

Jadi pada akhirnya, kembali ke kita sendiri... jangan hanya pacul yang dipermasalahkan? Nanggung! Jika memang bangsa kita maju dengan hasil karya sendiri, mari sama-sama belajar lebih kreatif mulai saat ini, meskipun dimulai dari hal terkecil sekalipun.