05 Maret 2013

Mengurus Perizinan : Calo, Biro Jasa atau Urus Sendiri?

Tidak ada komentar :
Mengurus Izin Domisili, HO, TDP
aLamathuR.com - Menurus surat-surat perizinan kantor memang bisa dikatakan gampang-gampang susah. Banyak orang yang sudah menyadari hal itu. Padahal di beberapa wilayah, sebetulnya hal ini sudah dipermudah dengan sudah ada system pelayanan satu atap yang dikelola dibawah badan perlayanan dan perizinan terpadu (BPPT). Levelnya ada di daerah tingkat II (kabupaten/kota). Mengapa masyarakat masih memanfaatkan calo, biro jasa dan sebagainya? Jawabannya adalah sederhana : "mereka tetap ada, karena selalu ada permintaan dari masyarakat yang katanya tidak mau repot"!, padahal....

Dari pengalaman saya beberapa minggu lalu yang kebetulan ditugaskan kantor untuk mengurus surat perizinan, saya mulai mencari-cari tahu tatacaranya. Yang tidak kalah pentingnya, mengenai berapa biayanya. Karena itulah yang paling sering menjadi pertanyaan..


Angka DiMarkUp Calo
 
Singkat cerita, saya pun mendatangi sebuah agen/biro pengurusan perizinan di daerah antapani, Bandung. Setelah menjelaskan keperluan saya secara detail, merekapun akhirnya menyodorkan hitungan angka 10 juta lebih untuk pengurusan mulai :
  1. Izin Tetangga
  2. Surat Domisili (diurus dari level kelurahan dan kecamatan)
  3. SIUP
  4. HO / izin gangguan
  5. TDP

Gila! Nggak salah tuh pak? Pemilik biro pun kemudian menjelaskan detail keperluan biayanya untuk masing-masing tingkatan. Dia menceritakan bahwa untuk lokasi kantor saya, termasuk pusat kota. Jadi pengurusan izin tetangga RT/RW pun perlu dana tidak kurang dari 500-ribuan. Kemudian untuk level kelurahan dan kecamatan, rata-rata bakal diminta 1 s/d 2 juta untuk mempermudah prosesnya.

Kemudian tahap akhir di BPPT itu disesuaikan dengan berbagai factor seperti lokasi, ukuran luas kantor dan lain-lain. Dia pun memperhitungkan angkanya di kisaran 6 – 7.5 jutaan. Jadi untuk keseluruhan proses ini sampai terima beres, dia meminta angka hampir 10juta-an.

Kemudian, saya coba cek lapangan lagi dengan mecari tahu agen/biro lain yang juga (katanya) “spesialis” pengurusan surat-surat izin kantor atau tempat usaha. Hasilnya? Setali tiga uang. Semuanya kerap menyodorkan angka-angka yang menurut saya kurang logis dan terlalu “dimarkUp”!

 
Akhirnya Ngurus Sendiri 

Karena itu, maka saya pun urung menggunakan biro jasa, dan memilih untuk menurus sendiri prosesnya. Meskipun pada akhirnya harus kembali berurusan dengan birokrasi.

Dimulai dari tahap izin tetangga, saya diminta biaya pengurusan sebesar 300rb. Masing-masing 150rb untuk RT dan RW. Kemudian, di tingkat Kelurahan dan kecamatan, pungutannya lumayan naik menjadi 700rb. Rinciannya 200rb untuk kelurahan dan 500rb untuk kecamatan. Dalam hal ini dalih yang digunakan adalah sebagai bentuk partisipasi dan kontribusi perusahaan terhadap pembangunan wilayah kecamatan dimana posisi kantor berada. Nggak salah tuh pak? Bukannya setiap kantor pemerintahan sudah ada anggarannya masing-masing dari pusat? Hhmmm…

Jadi sampai dengan tahap kecamatan, berarti ada 2 dokumen sudah selesai, yaitu Izin tetangga, dan Surat Domisili, yang “ditebus” dengan dana total 1juta rupiah! (saja)!

Berikutnya? Hanya tinggal proses di BPPT untuk proses TDP, HO dan SIUPnya. Untuk tahap ini baru akan saya jalankan mulai minggu depan. Karena ada 1 dokumen pelengkap sebagai syaratnya. Tapi untuk tahap proses di BPPT mudah-mudahan aturannya lebih jelas, karena PERDAnya sudah ada. Hitungan angka-angkanya pun sudah jelas dicantumkan dalam PERDA tersebut. Ini setidaknya akan bisa menjadi gambaran buat saya mengenai kebutuhan dana berikutnya.


Tapi pertanyaan saya:

Kira-kira kalau sudah ada PERDAnya yang jelas seperti ini, apakah mungkin masih ada “oknum” yang mencari “celah objekan” dalam birokrasi?

Pertanyaan ini mungkin hanya bisa dijawab setelah proses pengurusan ini selesai di tingkat BPPT. Mungkin dalam 14 hari kedepan, sesuai dengan Service level yang mereka janjikan atau mungkin juga lebih lama dari itu…

Kita tunggu saja…




15 Februari 2013

Pulsar 135 : Beda Bengkel, Beda Cerita

4 komentar :
aLamathuR.com – Tulisan ini asli berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika dua hari yang lalu saya TuneUp Bajaj Pulsar 135 di bengkel resmi Bajaj yang ada di daerah Ciateul, Bandung. Begitu datang ke bengkel langsung diarahkan ke counter registrasi yang kebetulan satu ruangan dengan Suzuki. Langsung diminta isi data request detail service. Saya bilang minta diTuneUp, ganti olie sekaligus cek kelistrikan yang bermasalah.

Request pertama, TuneUp, gak ada masalah dan mekanik siap garap. Kemudian ganti olie ternyata meskipun statusnya bengkel resmi Pulsar, disitu gak nyediain olie resmi seperti bawaan pabriknya. Malah nawarin merek BM1 sama Shell. Kurang tahu juga apakah memang stocknya kebetulan lagi kosong atau memang tidak pernah nyetok sama sekali. Saya pikir daripada coba-coba, mendingkan saya urungkan untuk ganti olienya. Toh kalo olienya ternyata gak cocok sedikit banyak pasti ngaruh ke tarikan mesin, betul gak? **sok tau aja saya….


Cerita Soal Masalah Kelistrikan
Untuk request nomor 3 ni yang agak unik. Saya minta mekanik untuk cek kelistrikan. Ini saya mintakan khusus karena sebelumnya motor saya kebetulan ada masalah dengan lampu rem (belakang) yang gak normal, terus electric starter gak bisa berfungsi serta klakson hanya bisa bersuara kalo kondisi lampu jauh tidak dinyalakan (alias harus dalam posisi mati).

Keluhan ini sudah pernah dihandle oleh 3 bengkel resmi yang berbeda-beda. Bengkel resmi Bajaj SPM di daerah Rambay (Sukabumi), bengkel resmi Bajaj di daerah Ciaul (Sukabumi), serta Bengkel resmi Bajaj di daerah Ahmad Yani (Bandung). Hasil pengecekannya kata mekaniknya beda-beda pendapat :
  1. Menurut mekanik bengkel Bajaj Rambay (Sukabumi), problem kelistrikannya dari kabel body (utama) rusak harus diganti. Kemudian tanya ke bagian adm bengkelnya, harganya kisaran 200 ribuan. Nggak jadi saya ganti, karena kebetulan lagi bokek. Hahaaaa… 
  2. Menurut mekanik bengkel Bajaj Ciaul (Sukabumi), problemnya dari cell accu rusak, sehingga suplai arus kelistrikan tidak normal (terganggu). Accunya tidak bisa disetroom, harus segera diganti. Padahal baru setahun. Kata adm bengkelnya, harganya kisaran 215 ribuan. Masih penasaran juga, nggak saya ganti dulu.  
  3. Menurut mekanik bengkel Bajaj Ahmad Yani (bandung), problemnya ada di bagian accu dan kabel kelistrikan yang beberapa diantaranya harus diganti. Saran mekanik yang inipun saya cuekin, kali aja dia nebak-nebak lagi.


Setelah selang dua bulan kemudian, waktunya TuneUp lagi, 2 hari yang lalu motor coba saya bawa ke bengkel resmi Bajaj di daerah Ciateul (Bandung). Karena baru tahu juga bahwa ternyata ada bengkel Bajaj yang lebih deket dengan rumah di daerah Srimahi.

Berhubung servicenya di hari kerja (jam istrahat kantor), jadi motor saya tinggalkan saja di bengkel. Baru sekitar jam 3.an saya jemput. Motor pun selesai diservice jam 3 dan saya cek semuanya sudah normal lagi. Tarikan enak, dan yang paling penting SELURUH FUNGSI KELISTRIKAN KEMBALI NORMAL!!!

Karena penasaran, saya coba sekalian tanya-tanya ke mekaniknya soal penyakit motor saya sebelumnya. Ternyata, jawabannya MENCENGANGKAN sodara-sodara! Mekanik bengkelnya bilang gini : “semua komponen kondisinya masih bagus koq Pak, Nggak ada sparepart yang rusak atau harus diganti. Accu bagus, kabel-kabel juga oke, cuman saya rapih-rapihkankan saja sedikit jalurnya!”  Waduhhh…
Kesimpulannya
Apakah mekanik yang di Bengkel Bajaj Ciateul itu yang jago banget atau mekanik di bengkel sebelumnya yang masih perlu disekolahin lagi (bahasa halus dari ngasal, red). Wkwkwkwkkkk.. Piss mennnn… 

14 Februari 2013

BCU Pulsar, Canggih Tapi Sensitif

2 komentar :
aLamathuR.com - Ngobrol-ngobrol sewaktu kopdar dengan beberapa bro pulsarian Bandung minggu lalu, banyak ngasi pelajaran baru buat saya dalam hal mengenali jeroan mesin pulsar. Salah satunya adalah soal penyematan teknologi BCU (Body Control Unit). Kabarnya, teknologi ini sangat canggih karena umumnya hanya bisa dijumpai dalam mesin mobil-mobil keluaran baru. Jadi dalam hal ini, kuda besi dari negeri sakura pun lewat! Meskipun dalam beberapa hal tertentu, jika dibanding-bandingkan maka akan tetap ada plus-minusnya.

Secara garis besar, BCU ini adalah Benda berbentuk kotak yang ditempatkan didalam headlamp (pada Pulsar 180 UG-4, 200 dan 220 minus kick starter) yang berfungsi :
  1. Sebagai pengatur sistem kelistrikan pada lampu utama, lampu senja, lampu indikator switch di stang, lampu sien, klakson, speedometer, elektrik starter dan lainnya
  2. Sebagai Flasher dan pengaman arus, bukan saja arus positif, tapi juga arus negatif
Sayangnya karena bagian adalah termasuk sangat sensitive dalam hal perawatan, maka perlu perlakuan khusus agar fungsinya tetap bisa diandalkan. Diantaranya :
  1. Untuk meminimalisir resiko konsleting, maka usahakan untuk menghindari mencuci motor dengan air tekanan tinggi pada bagian headlamp (terutama bagian bawah). Beberapa ranger pulsarian bahkan lebih senang mencuci bagian ini dengan membersihkannya dengan lap saja. Atau bisa juga solusinya dengan menambahkan pelindung khusus untuk bagian ini.
  2. Karena system kerja BCU memerlukan tegangan listrik yang sangat stabil, maka kondisi accu mutlak harus sering dikontrol untuk meminimalisir resiko kerusakan yang lebih fatal.
Dengan perawatan yang benar, maka BCU yang ada dalam pulsar kesayangan Anda setidaknya akan bisa lebih awet dan terpelihara. Bukan apa-apa, kalau mesti cepet ganti kan sayang, apalagi dalam rilis Harga Eceran Tertinggi yang pernah dirilis Bajaj Auto Indonesia, harga unit BCU ini ada di kisaran 431ribu s/d 456ribuan, tergantung varian motornya. Lumayan mahal kan? 
Penampakan BCU Pulsar : 


13 Februari 2013

Deepest Down

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com - Pada suatu ketika, kita pasti pernah dihadapkan dalam situasi yang (dalam pandangan kita) dirasakan ada di posisi kritis. Tak jarang sisi buruk diri kita kemudian akan mengarahkan pemikiran kita kepada hal-hal negatif. Kecenderungannya, jika pikiran-pikiran ini tak mampu dikendalikan, maka kemudian pemikiran ini akan teraktulaisasi dalam bentuk sikap dan perilaku yang buruk, bahkan cenderung negatif.

Dan itulah yang sedang aku rasakan saat ini. Ketika semuanya tidak berjalan sesuai dengan harapan…

Mudah-mudahan ada seseorang yang membimbingku untuk tetap bisa menapaki jalan yang lurus. Atau, jika tidak ada satu orangpun yang mampu membimbing aku, setidaknya ada Allah SWT yang (pasti) tidak akan keberatan untuk membimbing aku menapaki situasi sulit ini.. 

--------------------------------------------------------------
**disadur dari suara hati, Februari 2013

23 Januari 2013

Intip Kekayaan Pribadi Cagub dan Cawagub Jabar

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com – Dalam beberapa minggu kedepan, masyarakat Jawa Barat akan kembali dihadapkan kepada sebuah pesta Demokrasi yang diberi label “Pilkada : Gubernur Jawa Barat”. Prosesi untuk memilih orang nomor satu di Jawa Barat ini menurut rencana akan dilangsungkan pada tanggal 24 Februari 2013. Dari lima pasangan kandidat (dengan berbagai latar belakang) yang maju sebagai calon Jabar-1, tahukan Anda siapa kandidat yang memiliki kekayaan pribadi dengan nilai terbesar? Berikut adalah data menurut rilis KPK.

Secara umum, kekayaaan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar jika diurutkan adalah sbb :

  1. Dikdik Mulyana, kekayaannya bernilai sekitar Rp 30,5 miliar dan US$ 99 ribu
  2. Deddy Mizwar, kekayaannya bernilai sekitar Rp 27,099 miliar
  3. Dede Yusuf, kekayaannya bernilai sekitar Rp 11,234 miliar
  4. Lex Laksamana, kekayaannya bernilai sekitar Rp 11 miliar
  5. Tatang Farhanul, memiliki kekayaannya bernilai sekitar Rp 5,7 miliar
  6. Irianto (Yance), kekayaannya bernilai sekitar Rp 4,6 miliar
  7. Ahmad Heryawan (Aher), kekayaannya bernilai sekitar Rp 4,5 miliar dan USD 36 ribu
  8. Rieke Dyah Pitaloka, kekayaannya bernilai sekitar Rp 2,7 miliar
  9. Cecep Nana Suryana, kekayaannya bernilai sekitar Rp 1,4 miliar
  10. Teten Masduki, kekayaannya bernilai sekitar Rp 1,4 miliar

Pertanyaannya, apakah data seperti ini berpengaruh terhadap elektabilitas kandidat?
Hanya masyarakat cerdas saja yang bisa memberikan jawaban terbaik!

22 Januari 2013

Bohong Juga Bisa Bikin Gemuk

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com – Jika saya melontarkan satu pertanyaan apakah Anda sepakat dengan artikel yang ditulis AN Uyung Pramudiarja di situs detik edisi 21 Januari 2013 dengan judul “Hati-hati, banyak bohong juga bisa bikin gemuk”. Jawaban Anda mungkin sangat setuju, biasa saja atau bahkan bisa sangat tidak sependapat. Apakah yang Anda pikirkan?

Logika yang dikemukakan dalam artikel tersebut memang sebenarnya cukup masuk akal, hanya saja jika saya kaitkan ini dengan pengalaman pribadi, maka ada sedikit benarnya juga.

Dulu, saya akui “trik berbohong” beberapa kali sempat saya pelajari dan praktekan. Hasilnya? Badan saja gemuk (biarpun masih dalam batas wajar). Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, ketika saya sudah insyaf dari kebiasaan berbohong, sekarang saya (agak sedikit) kurus. Entah ini ada hubungannya atau tidak. Setidaknya pola makan dan olahraga saya tidak ada bedanya antara dulu dan sekarang.

Tapi harap dicatat, pengalaman yang saya alami bukanlah untuk menjadi pembenaran untuk siapa saja yang saat ini sedang dalam masa terapi ingin menggemukkan badan, lantas jadi suka bohong. Tentu tidak. Karena pada hakikatnya, hal jujur tentu akan lebih mulia dibanding harus berbohong dalam hal apapun juga.

Bagaimana dengan Anda?

Banjir : Mirip Surat Kabar

Tidak ada komentar :
aLamathuR.com – Dalam beberapa bulan terakhir, bangsa ini seperti tak henti-hentinya ditimpa bencana dan musibah yang tak terduga. Tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus sampai yang terhangat adalah musibah banjir yang turut menenggelamkan sebagian besar wilayah ibukota Negara. Ada apakah dengan bumi kita? Atau, adakah yang salah dengan perilaku kita sebagai manusia yang notabene sudah diamatkan untuk menjaga bumi ini?

Memang, pada hakikatnya semua sudah digariskan sebagai sebuah takdir dari Yang Maha Kuasa. Tapi pertanyaannya adalah apakah ini sebatas sebagai ujian ataukah teguran? Setiap pribadi kita pasti memiliki pandangan masing-masing dalam mempersepsikan ini.

Tapi dibalik semua ujian (ataupun teguran) ini, satu hal yang tak boleh dilupakan manusia adalah mengambil hikmah dan pelajaran dibalik setiap datangnya musibah. Dalam arti, bukan hanya diam, pasrah, menerima saja, tanpa melakukan apapun yang seharusnya disyariatkan untuk diperbaiki, tetapi dengan mengambil langkah konkrit yang tujuannya bersifat preventif (pencegahan).


Terlebih jika kita perhatikan salah satu kecenderungan masyarakat dalam menanggapi musibah banjir yang sifatnya rutin, misalkan tahunan atau lima-tahunan seperti di Jakarta. Sebagian diantara mereka berkata “Ahh.. ini sudah biasa koq, sudah langganan”.


"Dipikirnya banjir mirip Surat Kabar kali, bisa langganan.... Ada-ada saja".