16 September 2010

Percaya Diri, Modal Dasar Untuk Menulis

6 komentar :
aLamathuRs.com - Suatu ketika mungkin Anda pernah bengong cukup lama di depan komputer atau buku catatan Anda. Dengan bermodalkan ide yang sudah mucul di kepala saja ternyata tidak cukup mampu untuk menyelesaikan kalimat per kalimat yang ingin Anda tuliskan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Salah satunya mungkin karena Anda ragu dengan apa yang akan Anda tulis, baik dari segi materi, maupun gaya penyampaiannya.


Dulu, saya pun demikian. Tak jarang ide yang sebenarnya sederhana pun memerlukan waktu cukup lama untuk mengolah kata per kata, kalimat per kalimat sampai paragraf per paragrafnya. Paling sering dilakukan adalah menulis kalimat, kemudian mengeditnya, menghapusnya lagi, menuliskannya lagi dan seterusnya. Menurut saya ini jelas erat kaitannya dengan keyakinan dan kepercayaan diri sendiri dalam mengutarakan bahasa yang dituangkan dalam bentuk tulisan.

Ketidakpercayaan diri ini telah membuat keraguan menguasai diri dan pikiran. Ujung-ujungnya berbagai pertanyaan pun biasanya menghampiri, misalnya seperti:

  • Apakah saya cukup kompeten untuk membahas tentang topik ini?
  • Apakah tulisan saya akan dianggap menarik oleh pembaca?
  • Jika tulisan saya kemudian ternyata banyak yang menyindir atau bahkan mencerca, apa yang harus saya lakukan?
  • dan seterusnya....

Jika pertanyaan-pertanyaan diatas selalu terpelihara dalam benak Anda, maka bukan tidak mungkin hal ini akan berujung kepada rasa minder. Lebih jauh Anda akan selalu dihantui keraguan untuk mulai menulis, menulis dan menulis.

Saya pernah membaca dalam tulisannya mas Eko Prasetyo tentang seorang abang becak yang sukses banting setir menjadi seorang penulis. Namanya adalah Joni Ariadinata. Mungkin salah satu dari Anda familiar dengan nama tersebut? Beliau adalah seorang penyair dan cerpenis yang pernah berprofesi sebagai penarik becak. Namanya mulai dikenal saat cerpennya yang berjudul Lampor dinobatkan sebagai karya cerpen terbaik Kompas pada tahun 1994.

Jadi, sudah siapkah Anda menaikkan kadar kepercayaan diri Anda untuk mulai menulis dengan bahasa dan gaya Anda sendiri?

6 komentar :

  1. jadi kuncinya kita tidak perlu ragu-ragu..,
    coba saja untuk menulis begitu ya ??

    terima kasih nih atas pencerahannya.., :)

    BalasHapus
  2. kalo aku dulu, pas lagi jalan-jalan tu udah nemu kalimat-kalimat bwt ditulis di blog, pas sudah di depan komputer, otaknya langsung blank =.=

    BalasHapus
  3. Hm... ini pertanyaan yang mudah dijawab tapi tdk mudah dipraktekkan. Menurut saya rasa percaya diri ini bagaikan dinamit dalam menulis, yg akan meledakkan ide-ide kita tanpa ragu. Tapi jika rasa percaya diri tdk ada, maka sebagus apapun sebuah gagasan, juga tidak akan ada artinya. Dan menurut saya rasa percaya diri dlm menulis bisa dibangun dg berani uji coba dan berani gagal. Anggap saja kita membuang sekian peluru. Untuk akhirnya hanya beberapa peluru yg benar-benar meluncur tepat sasaran. Tapi jika semua peluru diimpikan tepat sasaran, biasanya kita sama sekali tdk akan berani menembak dengan satu peluru pun.

    BalasHapus
  4. hahag...kalau maslah percaya diri ini jujur memang sangat sering menghantui saya dalam menulis. alhasil dalam waktu 5 jam terkadang cuma jadi kerangka artikel saja. tapi saya sekarang sudah coba sih. saya hanya mencoba untuk menulis yang apa kira saya pikirkan. tulis semuanya tanpa editan. kira-kira 30 menit langsung jadi 1 artikel dan belum diedit. kemudian mencoba diedit setelahnya.

    mungkin percaya diri ini ada kaitannya dengan pikiran apakah artikel kita dibaca atau tidak. saya kira dari pengunjung 35% membaca, 35% cuma numpang lewat, sisanya hasil pencarian artikel lain. saya sih jadi PD soalnya kalau lihat time on site dan berapa banyak halaman yang dibuka memang beda. saya yakin 35% membaca walau pengunjung saya sehari cuma 40 orang. hanya saja yang berkomentar hanya dibawah 5%. saya pun demikianlah, saya baca dan kalau tidak mengerti artikel dan bahasan saya tidak berkomentar. maaf Pak, malah cerita blog sendiri saya...hehe...malah curhat.

    BalasHapus
  5. + Awaluddin Jamal : betul sekali. karena keragu-raguan tidak akan mendatangkan manfaat dalam aspek apapun...

    + takuya : kalo gitu mungkin komputernya yang perlu diganti.. hahaaa.. siapa tahu dengan komputer yang baru ingatan2nya tak mudah menguap...

    + Pak Guru Anas : analogi yang sangat menarik.. memang saya sangat setuju jika pede itu dibangun dari ujicoba. tapi saya ralat sedikit menurut pemikiran saya pada bagian ini: 'berani gagal', saya revisi menjadi 'berani (menanggung resiko) gagal'.. bukankah kegagalan itu hanya sebuah resiko, tidak menjadi sebuah tujuan..?

    + Ayub Adiputra : saya bisa lihat koq dari beberapa tulisan terakhir di blognya mas Ayub.. tulisan2nya sudah mulai mengalir dengan cerita2 yang terkadang cukup panjang namun tetap menjaga irama tulisan.. Soal prediksi awal tulisan kita ada yang baca atau tidak, secara manusiawi memang penulis yang sudah sukses pun tentu pernah mengalami situasi seperti itu.. hanya keinginan mereka untuk menulis jauh lebih menggebu-gebu mengalahkan keragu-raguan itu...

    BalasHapus
  6. Kurasa aku mulai PD menulis kayak kk gni,. tapi ttap Myself :)

    BalasHapus