14 September 2010

Blogger Mudik : Plat Nomor B Sang Penunjuk Jalur

13 komentar :
aLamathuRs.com - Jujur saja, inilah pengalaman yang awalnya sedikit ragu untuk saya tulis disini. Secuil pengalaman unik dari perjalanan balik mudik kemarin. Karena ini adalah pengalaman solo-touring Tasik-Jakarta pertama saya dengan sepeda motor, maka saya pun masih benar-benar buta dengan jalur jalan yang harus dilewati. Sejak berangkat dari rumah, langsung terpancang niat untuk mengunjungi pos rehat lebaran yang saya pikir akan mudah saya temui di sepanjang jalur mudik. Tujuannya sederhana, hanya untuk meminta peta panduan jalur jalan. Setelah meluncur dan menyusur sepanjang jalan, ternyata sepanjang jalur mudik ini hanya saya temui tiga pos rehat yang sudah sepi. Disana pun tak menyediakan peta jalur mudik yang saya perlukan..paraahh..

Akhirnya perjalanan pun terpaksa berlanjut dengan panduan jalan seadanya. Setiap menemukan rambu penunjuk jalan bertuliskan arah ke Jakarta, ya saya ikuti. Celakanya, ternyata rambu penunjuk arah jalan ini terkadang tidak setiap perempatan/tikungan dipasang. Akibatnya terkadang saya harus menghentikan dulu sepeda motor saya sekedar untuk menunggu kendaraan mudik berplat nomor B (Jakarta).

Lucunya, tidak jarang ketika sampai pada sebuah persimpangan jalan, kendaraan berplat nomor B ini terpecah jalurnya. Inilah yang terkadang membuat saya mau tiak mau wajib mengoptimalkan naluri saya hahaaa.. Maklum, saya termasuk orang yang sedikit malas untuk menghentikan kendaraan hanya untuk menanyakan arah jalan. Padahal bukankah hal itu tentu merupakan modal yang harus dimiliki oleh kebanyakan bikers khususnya yang hobi melakukan touring jarak jauh?

Setelah sedikit meraba-raba jalur dengan mengikuti setiap kendaraan berplat nomor B ini, akhirnya sampai juga di daerah Karawang. Jam tangan saya sudah menunjukkan hampir pukul 18:00. Artinya sudah hampir enam jam saya menempuh perjalanan ini tanpa istirahat! pantat terasa panasss, tangan mulai pegal, kaki dingin, karena kondisi hujan yang membasahi sepatu kanvas saya..

Di salah satu persimpangan jalan yang lagi-lagi saya tidak tahu namanya, saya dibuat pusing ketika tak ada satupun rambu penunjuk jalan yang terpasang. Sialnya lagi, sudah beberapa menit saya tunggu kendaraan mudik berplat nomor B pun tak terlihat satupun. Saya pun putuskan untuk tetap setia menunggu di persimpangan jalan (hahaaa... seperti judul lagu saja yah..?)

Beberapa saat kemudian, muncullah rombongan sepeda motor berplat nomor B yang saya tunggu-tunggu. Alhamdulillah, akhirnya Tuhan menunjukkan kepada hambanya ini kepada jalan yang benar yang harus dipilih. Daripada saya sok tahu dan ternyata nyasar ke daerah antah berantah? mungkin seperti inilah pilihan yang lebih bijak. Bukan begitu, begitu bukan?. Perjalanan pun berlajut.. tarrriikkk maaanggg...

Setelah berpuluh-puluh kilometer menempuh jalur, kemudian sampailah ke daerah Bekasi. Dari sini sudah tak ada masalah lagi buat saya karena rambu penunjuk jalan sudah sangat mudah ditemui di setiap persimpangan. Jadi, sang plat nomor B sudah sedikit saya acuhkan, walaupun tidak sepenuhnya. hahaaa.. maklum saja, kadang saya masih sering nggak ngeh juga dengan rambu yang baru terlihat secara mendadak..

Akhirnya, tepat pukul 20:30 sampailah saya di rumah dengan selamat. Karena langsung terinspirasi untuk membuat reportasenya, jadi kemudian saya mencatat ide tersebut dalam benak terlebih dahulu (karena laptop dan alat tulis saya masih terpacking rapi dalam tas). Pagi ini sempat terbersit sedikit keraguan juga apakah cerita ini harus saya tulis disini. Tapi kembali saya teringat dengan nasihat Pak Guru Anas, tentang menulis dan menulis. Menulis tentang apapun yang ada di kepala. Menulis tentang apa yang ingin kita tulis walaupun belum tentu ingin kita bagi.

Sebagai penutup, tidak lupa saya ucapkah jutaan terima kasih kepada ratusan Plat Nomor B yang telah membantu menuntun saya dalam menempuh jalur mudik tahun ini sehingga bisa selamat sampai tujuan. Ternyata eksperimen mudik tahun banyak memberikan pelajaran berharga
 
 

13 komentar :

  1. Bisa jadi alternative penunjuk jalan kalau kesasar, Tinggal nyari plat no B aja ya biar bisa sampe ibu kota.

    BalasHapus
  2. + ChugyGOGOG : bisa. tp sangat tidak direkomendasikan mas. Selama masih ada penduduk sekitar, mendingan tanya2 deh.. hihiii..

    BalasHapus
  3. oalaaaah,,,,akhirnya bisa selamat sampai tujuan ya...
    lain kali siapin peta dulu aja...hehehe

    mohon maaf lahir dan bathin ya...

    BalasHapus
  4. + riesta : baiklah bu. saya akan ingat nasihatmu.. menyimpan peta dan membawanya kemana2.. kayak Dora (the Explorer) dunk? heheheee...

    BalasHapus
  5. Siep, penyelesaian masalah yang keren, dari pada ikut jalan ngga jelas dan kemudian kesasar.

    BalasHapus
  6. ;)) ternyata plat itu bisa dijadikan penunjuk jalan ya..

    BalasHapus
  7. + Rubiyanto : ahh.. sekarang aja bisa bilang keren, kemarin mah boro2.. was2 yg ada.. hihii..

    + Takuya : bisa atuh.. kan kita kudu kreatip.. (pake 'p') :)

    BalasHapus
  8. hahag...ea ea sama seperti saya yang kemarin mau pulang ke Semarang dari daerah Klaten. saat itu saya harus jemput dulu bebrapa anggota keluarga yang ada di Boyolali sehingga saya harus kejar waktu dan harus bisa melewati macet. karena tidak ada celah dan terjebak macet panjang, saya memilih untuk mengikuti beberapa mobil yang banting setir merayap menuju jalur jalanan di pedesaan. dan ketika bertemu dengan pertigaan saya langsung bingung karena plat nomor acuan saya plat H (Semarang) terlihat melintas ke jalan yang berbeda. ada yang mengambil belok ke kiri dan ada yang belok ke kanan. sehingga saya pun memutuskan untuk bertanya. dan saya baru tahu kalau ke dua jalur itu bisa dilewati tinggal mau pilih saja lewat pusat oleh-oleh atau langsung menuju ke jalur utama...hehe...

    BalasHapus
  9. + Ayub Adiputra : jadi judulnya 'pilih jalur alternatif' nih? tapi ada yang kurang lengkap dari sharing pengalamannya tuh.. akhirnya mas Ayub pilih jalur yang mana? jalur oleh-oleh atau langsung ke jalur utama? ..kalau yang dipilih adalah jalur oleh-oleh, maka wajib hukumnya untuk dibagi2kan (dikirimkan) kepada sahabat-sahabat blogger sekalian.. yang sudah setia menunggu anda pulang mudik...

    BalasHapus
  10. hahag...ea maaf Pak. dan terima kasih buat koreksi komentar saya...xixixi. dimana-mana tulisan yang dikomentari, tapi ini komentar terhadap komentar...hehe... saya pilih jalur jalur utama. saya merasa motor saya juga harus diisi perutnya biar tidak ngambek di jalan. soalnya menurut pengakuan warga sekitar lewat jalur oleh-oleh itu memutar jauh. takutnya bensin abis. soalnya sudah Empty...hehe...apalagi motornya 2 tak. repot kalau samapai kehabisan bensin Pak.

    BalasHapus
  11. + Ayub Adiputra : komentar dikomentarin lagi, kenapa tidak? bukankah itu yang dinamakan diskusi? hhmm... mas Ayub bilang tidak memilih jalur oleh-oleh bukan karena takut rekan blogger mintain kan? hahaaaa...

    BalasHapus
  12. ea Pak. memang itu yang sangat menyenangkan. bisa jadi bahan diskusi...hehe...
    tidak kog Pak, tidak salah maksudnya...hahahag...bingung juga ngirimnya pakai apa nanti. sudah saya bawakan gado-gado kemarin di blog sama laporan sedikit...hehe...

    BalasHapus
  13. + Ayub Adiputra : klo yg di blog mas Ayb, lebih tepatnya bawa info gado2 kan? bukan gado2 makanan..?? hahaaa...

    BalasHapus