24 Agustus 2010

Apakah Tujuan Itu Perlu Dituliskan?

16 komentar :
aLamathuR.com - Kemarin sore, secara tidak sengaja saya membuka-buka beberapa koleksi buku yang saya miliki tetapi sejak saya membelinya, belum sempat saya membacanya secara utuh. Buku pertama yang saya sentuh berjudul 'Look Who's the Loser Here' karya Steve McDermott (baca review pengantarnya disini). Sampai pada chapter 7 buku ini, saya menemukan tulisan unik yang saya pikir menarik untuk diangkat sebagai bahan posting kali ini. Chapter tersebut memberikan gambaran mengenai hasil sebuah studi yang dilakukan terhadap para lulusan Universitas Harvard sekitar tahun 1950-an yang diteliti mulai dari tahun kelulusan sampai dengan 30 tahun setelahnya.

Bagian paling menarik dari kesimpulan studi
Anda tentu bisa lihat jika dalam beberapa posting terakhir di blog ini, saya selalu membahas tentang pentingnya menulis dan menulis.. Dan studi ini pun dilakukan untuk melihat seberapa besar pengaruh kekuatan tulisan terhadap keberhasilan pencapaian sebuah tujuan. Penelitian ini dilakukan terhadap para lulusan Universitas Harvard sekitar tahun 1950-an yang disurvey mengenai berapa orang dari lulusan-lulusan tersebut yang sudah mempunyai tujuan jelas setelah menyelesaikan kuliahnya di kampus tersebut. Jawaban yang muncul adalah bahwa semuanya memang memiliki tujuan masing-masing pasca kelulusan mereka. Pertanyaan berikutnya adalah 'berapa orang dari mereka yang menuangkan tujuannya tersebut dalam bentuk tulisan? jawabannya ternyata hanya 3% saja. Sisanya, 97% tidak menuangkannya dalam bentuk tulisan, alias hanya memikirkannya saja dalam pikiran (otak) mereka. Jika Anda misalkan menjadi bagian dari mereka, mudah-mudahan berada dalam kelompok yang 3% tersebut...

Studi ini kemudian mengamati perkembangan karir para lulusan tahun 50-an tersebut selama 30 tahun berikutnya. Ternyata 3% lulusan yang sempat menuliskan tujuan hidupnya bisa mendapatkan karir jauh lebih baik dan penghasilan yang jauh lebih besar dibanding dengan 97% lulusan yang tidak menuliskan tujuannya! Terlepas dari apakah kesimpulan ini hanya merupakan kebetulan belaka, saya tidak tahu.. sumpah! Jika Anda penasaran dengan publikasi jurnalnya secara lengkap silahkan googling saja sendiri.. heheee..

Tapi terlepas dari bagaimanapun kesimpulan studi diatas, setidaknya ada hikmah yang bisa dipetik untuk menjadi bahan renungan kita bersama. Salah satunya kita menjadi yakin bahwa sebuah tujuan yang hanya disimpan dalam pikiran (otak) dan tidak dituangkan dalam bentuk tulisan, maka hanya akan menjadi mimpi dan angan-angan semata, bahkan sewaktu-waktu bisa menguap. Akan sangat sulit untuk mewujudkan tujuan tersebut!

Kesimpulan dari tulisan saya ini adalah, marilah untuk mulai membiasakan diri menuliskan tujuan-tujuan kita. Tuliskanlah tentang tujuan hidup Anda kedepan, tentang rencana karir Anda berikutnya, atau tentang target yang hendak Anda capai dalam beberapa waktu kedepan. Karena dengan hanya dengan menuliskannyalah, maka tujuan itu akan tergambar secara lebih jelas, lebih terarah, lebih realistis, lebih terukur secara periode dan yang paling penting terukur secara langkah perlangkah (step-by-step) yang harus Anda ambil untuk mencapainya.

Jadi, tunggu apa lagi? Jika saat ini Anda masih ragu untuk menuliskannya dalam buku harian atau blog Anda, cobalah untuk menuliskannya secara sederhana melalui beberapa baris kalimat dalam kolom komentar dalam tulisan ini. Dan marilah kita berdiskusi untuk berbagi pikiran disini.....

16 komentar :

  1. + Ka Damar : setuju lagi.. sepertinya secara tidak sengaja Anda juga telah mengaitkannya dengan pepatah agama "segala amalan tergantung niat"..
    + komgue : komputer gue : ok.. hmmmm...

    BalasHapus
  2. kadang tidak menulis itu krna ketakutan plan yg tidak terwujud.

    hmm.. baiklah saya akan mulai nulis deh, tapi banyak nih! :))

    BalasHapus
  3. + Mamisinga : justru dengan menuliskannya maka akan mudah dalam menentukan step-by-step proses yang harus kita lewati untuk mencapai tujuan tsb, jadi kan lebih jelas pencapainnya bisa dievaluasi.. bukankah proses kerja itu yg utama, dan hasil itu adalah bonus???

    BalasHapus
  4. Hmmm menarik nih..
    Byk mmg manfaat menuliskan tujuan dari apa saja yg kita inginkan. Dan itu sdh tdk terbantah. Kecuali oleh yg jadul. Dan saya mengaku dulu sgt rajin menulis tujuan hidup, termasuk setiap langkah-langkahnya, tp sayang saya juga malas mempraktekkanya. Akhirnya ya .... gak jadi kaya ha ha..

    Dan sehubungan dg blogging, saya ingin sharing nih mas, juga utk Mamisinga...
    Sejauh ini, yg saya lakukan hy mencatat judul tulisan saja sbg pemancing ingatan isinya di kemudian hari. Tp apa yg mau ditulis dan seterusnya tdk saya tulis di buku harian. Justru lgs saya tulis di blog.

    Jika saya merasa kesal misalnya, saya tdk menulis action plan bagaimana dan kapan mengatasi kekesalan ini. Cara yg saya tempuh adalah, saya lgs menulis kemarahan saya. Ketika saya bingung, saya tulis kebingungan saya. Ketika saya ingin belajar menulis, ya juga saya tulis pengakuan bahwa saya sedang belajar menulis. Jadi semuanya diluahkan dalam tulisan.

    "Setelah ditulis itulah saya tahu jwabannya. Bukan sebelum ditulis!"

    BalasHapus
  5. + Pak Guru Anas : untuk sebagian orang (terutama yang memiliki daya ingat bagus), mencatat judul tulisan saja sbg pemancing ingatan memang bisa saja dilakukan.. tetapi jika orangnya pelupa benar2 pelupa.. tentunya setidaknya menuliskan pikiran2 utama akan menjadi pilihan yang lebih bijak.. walaupun mungkin tak perlu sampai ke penjelas2nya.. bukan begitu, begitu bukan?

    BalasHapus
  6. Ini yang mungkin bisa di bilang gampang gampang susah...menuliskan tujuan hidup kita kedepan. Lebih tepatnya kita harus bisa memanage atau memplaning hari esok. Saya juga lagi blajar untuk sdkit demi sdikit menuliskan tujuan hidup...

    Postingan yang mnarik mas...sukses slalu.

    BalasHapus
  7. daLam menuLis saya masih secara sporadis, yakni seperti air mengaLire berdasarkan perasaan hati yg dituangkan ke daLam tuLisan. sehingga isinya pun masih tercermin keamatirannya, diharapkan dari siniLah bisa menuju kepada konsep tuLisan yg sebenarnya.
    menurut saya orang2 masuk daLam kategori 3 persen tersebut kaLau di anaLogikan sebagai "faLsafah teko". semakin isinya banyak dituangkan maka kapasitas daya muatnya akan semakin besar, tetapi sebaLiknya. biLa isinya tidak pernah dituangkan maka kapisitasnya akan sangat terbatas, sebab sejauh mana memori otak manusia bisa menampung keseLuruhan apa yg pernah dia tangkap. sehingga terLepas dari kehendak Tuhan (bukan berarti mengesampingkan, ini hanya berdasarkan reaLitas), ituLah penyebab keberhasiLan mereka karena mereka berupaya untuk merencakan untuk ke depannya sedangkan yg teLah LaLu hanya sebagai pembeLajaran dan ditinggaLkan untuk kehidupan yg Lebih baik Lagi.

    BalasHapus
  8. hmmm,,, tulisan yg menarik sobat,,dengan membaca ini,,ane dah mulai merencanakan tujuan hidup ae,, thnks sob,,,hapy blogging yah :)

    BalasHapus
  9. Saya hanya bisa memandang dari sudut kodrat manusia. Terlepas dari benar atau tidaknya hasil survey diatas yang jelas kita memiliki sifat dasar "lupa". Menuangkannya dalam bentuk "tulisan" adalah salah satu cara untuk untuk mem-backup memory kita saat kita lupa akan tujuan kita.

    Persoanally, jika judul postingan ini diarahkan ke saya, maka dengan lantang saya akan menjawab; SAYA MANUSIA...!

    BalasHapus
  10. Betul mas,
    Daya ingat dan imajinasi setiap orang mmg tidak sama. Karena itu setiap blogger harus mengambil sikap apa formula yg paling pas bg mereka. Yang penting, spt inti tulisan ini,jangan sampai membiarkan diri hanya hanyut tanpa arah...

    BalasHapus
  11. Tujuan itu penting bgt... coba aja lakukan sbuah perjalanan tp tanpa ada tujuan, apa yg akan dirasakan???

    letih, capek, sia2, gagal, dan sebagainya, tp apakah akan ditemukan rasa "puas, senang, bahagia"??
    tentu jauh dari itu.

    slm knl sobat

    BalasHapus
  12. soal menulis ataw tidak, itu soal lain, karna sebagian tujuan hidup seseorg itu sbnrnya udh tertuang didlm benak mreka masing2 sejak mreka mulai beranjak dewasa atw mulai dituntut utk mandiri, dgn sendirinya tujuan itu mgkin bs muncul atw berubah2 ketika kita mendapatkn sebuah peluang.

    ada sbuah pertanyaan,
    "semula tujuan kita yg kita tulis adalah ingin menjadi Satpam misalkan, namun suatu wkt kita menemukan sbuah peluang utk menjadi seorang direktur(bisa jadi loh)... apakah kita akan tetap pd tujuan yg kita tulis???"

    BalasHapus
  13. + ChugyGÒgÓG : 'memanage dan memplaning..' saya suka dengan kedua istilah itu! maksudnya sedikit demi sedikit itu dalam menyusun langkahnya mungkin ya, karena jika niatnya hanya memperbanyak tujuannya tanpa mengembangkannya step by step, ya percuma..

    + om rame : cara om dengan menganalogikannya dengan 'falsafah teko' sungguh sangat menarik.. sepertinya selain blogger om juga ternyata seorang calon atau jangan2 memang sudah menjadi seorang filusuf..?

    + Elvindinata : terima kasih. kalau boleh berbagi, kenapa tidak kita sharing tujuan kita masing2 disini?

    + Iskaruji : sepertinya mas ini mampu memandangnya persoalan ini dari perspektif lain yang lebih mudah dipahami oleh orang awam.. salut 5 jempol buat mas Iskaruji dan Ibu Anda..

    BalasHapus
  14. + Pak Guru Anas : setuju dengan pendapat Pak Guru.. dan dengan adanya diskusi semacam inilah maka kita bisa saling memberikan masukan untuk bahan introspeksi diri.. agar semua yang kita tuju dapat berjalan sesuai dengan apa yang (menurut tuhan) terbaik untuk kita..

    + penghuni60 : kalu begitu saya senang karena Anda sudah memahami dan dapat menentukan tujuan hidup Anda sendiri..

    + Science Box : intinya kan dengan adanya peluang untuk menjadi direktur tsb, maka tujuan hidup kita boleh diupdate.. sekaligus tulisannya juga.. misalnya ketika peluang jadi direktur itu datang, maka tuliskan ulang tujuan tsb dan susun strateginya yang diperlukan agar status direktur yang asalnya hanya berupa peluang tsb bisa berubah menjadi kenyataan.. jadi jangan pernah ada anggapan "jika kita telah menuliskan tujuan awal, maka segalanya menjadi kaku dan tidak mungkin berubah atau dalam bahasa bloggingnya DIUPDATE..."

    BalasHapus
  15. hakhakhak..., saya justru masih banyak beLajar dgn beLiau2 agar semua apa yg kita miLiki dapat bermanfaat bagi orang Lain. seperti haLnya ini, saya memanfaat fasiLitas (bacaan) yg teLah disampaikan oLeh Om Alamathur, saya saring sedemikian rupa sehingga akhirnya saya gunakan sebagai saLah satu bahan untuk sama2 beLajar mendiseminasikan wawasan, iLmu pengetahuan, dan Lain sebagainya yg diharapkan dpt bermanfaat bagi kita semua.

    BalasHapus
  16. + om rame : setuju banget om. memang itulah yang belum semua orang menyadarinya, yaitu menulis itu juga merupakan media untuk berbagi dengan orang lain.. dan memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya..

    BalasHapus